Pascacovid 19

Kreativitas dan Inovasi Adalah Kunci Menyintas Industri Pariwisata Indonesia di Masa Pascacovid-19

Kreativitas dan inovasi berbasis teknologi informasi bisa menjadi penyelamat industri pariwisata Indonesia, di masa pascacovid-19.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
kemenparekraf.go.id
Menparekraf Wishnutama Kusubandio tampak memperhatikan proses penerimaan tamu di sebuah hotel. Terlihat ada jarak cukup besar antara tamu di depan meja resepsionis dengan tamu berikutnya. Besar kemungkinan jarak antarmanusia ini akan menjadi new normal di sektor perhotelan. 

Dalam persiapan menuju reopening industri pariwisata, para manajer dan pelaku industri perlu melakukan riset secara mendalam, agar dapat menggeser business model atau bahkan menciptakan business model baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar terkini.

Formasi duduk penumpang penerbangan Lion Air di masa pandemi Covid-19, dalam pesawat Boeing 737 dan Airbus 320.
Formasi duduk penumpang penerbangan Lion Air di masa pandemi Covid-19, dalam pesawat Boeing 737 dan Airbus 320. (Istimewa/Lion Air Group)

WK: Apa pendapat Anda mengenai ide menaikkan harga disebut-sebut sebagai cara mengatasi berkurangnya pendapatan? Apakah cara ini bukannya malah semakin mengurangi pengunjung?

EG: Kenaikan harga akan berpengaruh kepada pasar yang menjadi target industri pariwisata.
Target pasar yang berbeda belum tentu membutuhkan atau menginginkan produk atau jasa yang ditawarkan.

Bukan sekadar less contact

WK: Apakah pembatasan jarak ini akan berlanjut ke masa post-normal? Kira-kira apa yang akan terjadi di industri wisata?

EG: Sampai dengan saat ini tidak ada yang dapat memrediksi kapan covid-19 akan berakhir. Pembatasan jarak masih harus dilanjutkan bila kita ingin covid-19 segera berakhir.

Industri pariwisata memiliki sifat gathering people dan human interactions. Tanpa interaksi dengan penduduk lokal, maka pengalaman berwisata, yang sudah menjadi tren sejak beberapa waktu ke belakang, akan mengurangi kualitas berwisata.

Faktor yang sangat berpengaruh dalam keberlanjutan industri pariwisata adalah confidence (kepercayaan) wisatawan, yang sulit untuk dimenangkan dalam keadaan seperti saat ini.

Indonesia masih memikirkan bagaimana menyelenggarakan pengalaman berwisata dengan less contact. Padahal kita tidak dapat mengharapkan "tanpa kontak tidak terkontaminasi". Tidak ada yang menjamin.

Saya meyakini bahwa solusi dengan pemanfaatan teknologi informasi yang lebih dari sekadar less contact akan sangat membantu mengembalikan confidence wisatawan.

Dari daftar Project Healing Solutions Tourism Challenge UNWTO (World Tourism Organization), terdapat 2 solusi yang bisa mengembalikan confidence wisatawan.

Namun, solusi tersebut harus didukung dengan berbagai faktor humanis lainnya. Solusi tersebut adalah sebuah alat scan tangan dan sebuah aplikasi yang dapat melacak keberadaan seseorang dalam sebuah situasi tertentu.

Aplikasi pelacakan kontak tersebut dapat memberikan informasi apakah seseorang pernah dalam waktu tertentu berada di dekat ODP atau PDP.

Kinexon SafeTag, sebuah alat yang akan mengingatkan penggunanya bahwa dia berdiri terlalu dekat dengan orang lain. Alat ini buatan Kinexon, sebuah perusahaan teknologi informasi di Muenchen, Jerman.
Kinexon SafeTag, sebuah alat yang akan mengingatkan penggunanya bahwa dia berdiri terlalu dekat dengan orang lain. Alat ini buatan Kinexon, sebuah perusahaan teknologi informasi di Muenchen, Jerman. (kinexon.com)

MICE

WK: Bagaimana masa depan sektor MICE (meeting, incentives, conferencing, exhibitions) dengan protokol kesehatan yang lebih ketat ini?

EG: Kegiatan pada sektor MICE sudah pasti mengumpulkan banyak orang, dan sejauh yang saya observasi, protokol kesehatan di Indonesia yang ketat belum dapat dipahami.

Hal terpenting dan prioritas yang perlu diketahui adalah alasan mengapa masyarakat Indonesia masih belum paham protokol kesehatan yang penting.

Berangkat dari identifikasi masalah itu baru sector MICE dapat menemukan solusi yang terbaik dalam me-running acara-acaranya.

Paket pemeriksaan kesehatan

WK: Baru-baru ini Pemerintah Kabupaten Belitung Barat menyatakan mereka akan membuat paket menginap lengkap dengan pemeriksaan kesehatan seharga Rp 1,5 juta (hanya harga tes kesehatan). Apakah ini tepat atau malah membuat pengunjung membatalkan niatnya untuk datang?

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved