Pascacovid 19

Kreativitas dan Inovasi Adalah Kunci Menyintas Industri Pariwisata Indonesia di Masa Pascacovid-19

Kreativitas dan inovasi berbasis teknologi informasi bisa menjadi penyelamat industri pariwisata Indonesia, di masa pascacovid-19.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
kemenparekraf.go.id
Menparekraf Wishnutama Kusubandio tampak memperhatikan proses penerimaan tamu di sebuah hotel. Terlihat ada jarak cukup besar antara tamu di depan meja resepsionis dengan tamu berikutnya. Besar kemungkinan jarak antarmanusia ini akan menjadi new normal di sektor perhotelan. 

Industri pariwisata memang sangat terdampak oleh pandemi Covid-19, karena masyarakat tak bisa pergi berwisata.

Jangankan berlibur, pergi ke luar rumah saja tidak disarankan bila keperluannya tidak penting-penting amat.

Terminal 3 Keberangkatan Bandara Internasional Soekarno Hatta tampak sepi akibat pandemi Covid-19.
Terminal 3 Keberangkatan Bandara Internasional Soekarno Hatta tampak sepi akibat pandemi Covid-19. (Warta Kota/Nur Ichsan)

Imbauan itu bukan mengada-ada, melainkan untuk memutus rantai kejangkitan virus corona yang meniliki tingkat penularan sangat cepat.

Di Indonesia, Pemerintahnya hanya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Namun di banyak negara, terutama yang merupakan zona merah Covid-19, pemerintahnya melakukan penguncian wilayah (lockdown).

Pembatasan pengunjung

Sialnya, pukulan telak Covid-19 ternyata tidak berhenti di masa PSBB dan lockdown. Setelah PSBB dan lockdown dicabut, Pemerintah memberlakukan protokol kegiatan baru yang berbasis protokol kesehatan ketat.

Disebutkan dalam protokol kesehatan baru itu bahwa harus terjadi pembatasan jarak antarmanusia, minimal 1 meter.

Karena itu, jumlah pengunjung tempat wisata, restoran, dan hotel dibatasi, hanya sekitar 50 persen dari kapasitas normal atraksi tersebut.

Belum lagi protokol kesehatan yang berkaitan dengan industri transportasi. Jumlah penumpang yang boleh diangkut sebuah wahana adalah 50 persen dari kapasitas normal.

Aturan ini jelas-jelas akan memengaruhi profit sebuah tempat wisata, restoran, hotel, bahkan perusahaan otobus dan maskapai penerbangan.

Warta Kota bertanya kepada Edvi Gracia Ardani M Par, dosen Program Studi Kewirausahaan di
Universitas Agung Podomoro, mengenai peluang industri pariwisata di Indonesia menghadapi era pascacovid-19.

Edvi Graci Ardani M Par, dosen Program Studi Kewirausahaan di Universitas Agung Podomoro.
Edvi Graci Ardani M Par, dosen Program Studi Kewirausahaan di Universitas Agung Podomoro. (Dok. pribadi)

Berikut hasil wawancara tersebut:

Warta Kota (WK): Apakah industri pariwisata Indonesia sudah siap dengan kebijakan new normal pascacovid-19?

Edvi Gracia (EG): Industri pariwisata merupakan industri yang berfokus kepada interaksi manusia, dan mengalami tantangan untuk tetap aktif dalam memutus mata rantai penularan covid-19.

Tantangan tersebut akan semakin berat mengingat karakter manusia Indonesia yang terkenal akan keramahannya.

Upaya keras dari manajemen yang mengelola bisnis pariwisata harus terus didorong dan didukung, dan tentunya partisipasi banyak pihak dalam mensosialisasikan protokol post-Covid-19 (pascacovid-19) ini tersampaikan dengan baik kepada manajemen pengelola bisnis pariwisata.

WK: Melakukan pembatasan pengunjung, seperti yang diatur dalam protokol kegiatan yang baru, dipastikan akan berpengaruh ke pemasukan industri pariwisata dan profitnya. Apa yang harus dilakukan para pengusaha sektor pariwisata ini?

EG: Pengurangan jumlah pengunjung sudah pasti akan berpengaruh besar kepada profit, tetapi kegiatan ekonomi tetap harus menjadi fokus utama setelah kesehatan.

Saat ini, kreativitas dan inovasi sangat penting bagi semua industri untuk bertahan, termasuk sektor pariwisata.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat mengharuskan para pelaku industri pariwisata berinovasi untuk menciptakan business model yang paling tepat.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved