Pascacovid 19

Ekowisata, Wisata Petualangan, dan Wisata Kesehatan Akan Diminati Masyarakat Pascacovid-19

Wabah virus corona diprediksi akan meningkatkan minat masyarakat kepada ekowisata, wisata petualangan, dan wisata kesehatan.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/AC Pingkan
Yoga di alam terbuka. Permintaan wellness tourism diprediksi akan meningkat pascapandemi Covid-19. 

Wisata alam (ekowisata) di Indonesia akan kebanjiran pengunjung saat Pemerintah mencabut pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Itulah prediksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), sehingga para pelaku ekowisata agar segera mempersiapkan diri.

Berwisata ke Pulau Timang, di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta belum lengkap jika tidak menyeberang ke pulau karang. Destinasi ini menawarkan keindahan alam dan petualangan sebagai atraksinya.
Berwisata ke Pulau Timang, di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta belum lengkap jika tidak menyeberang ke pulau karang. Destinasi ini menawarkan keindahan alam dan petualangan sebagai atraksinya. (Warta Kota/AC Pingkan)

Sebagaimana dilansir laman Kemenparekraf, produk ekowisata di Indonesia akan sangat diminati pascapandemi COVID-19.

Terlebih dengan hadirnya kondisi new normal, akan muncul tren baru dalam berwisata di mana wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang terkait dengan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan.

Bukan wisata massal

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, saat Webinar Ekowisata pada Rabu (20/5/2020) menjelaskan, pandemi ini mengubah jenis, tipe dan pengelolaan destinasi termasuk di dalamnya kegiatan ekowisata.

Untuk itu perlu evaluasi dan penataan ulang pola perjalanan ekowisata, yang disesuaikan dengan kondisi new normal.

“Kami prediksikan kegiatan wisata berbasis alam atau outdoor paling cepat rebound, karena ecotourism bukan mass tourism tetapi wisata minat khusus. Kita mendukung akan kembalinya atau malah berkembangnya ekowisata di Indonesia. Ke depannya, kami akan konsentrasi di ecotourism dan wellness tourism,” kata Rizki Handayani.

Dalam Webinar Ekowisata hadir sebagai panelis Direktur Indonesia Ecotourism Network (INDECON) Ary S Suhandi, Direktur Via Via Tour & Travel Sry Mujianti, dan dipandu oleh Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf Alexander Reyaan sebagai moderator.

Dalam webinar tersebut Ary S Suhandi menjelaskan, ekowisata, wisata petualangan, dan wisata kesehatan (wellness tourism) diperkirakan memang akan menjadi produk-produk yang paling diminati pascapandemi.

Khususnya untuk kegiatan dengan grup kecil dan aktif, seperti interaksi di luar ruangan, kegiatan edukasi alam untuk keluarga, hingga aktivitas yang berkontribusi pada konservasi alam.

“Adventure juga berpeluang besar, khususnya kegiatan dalam grup kecil dan aktivitasnya dinamis, seperti trekking, snorkeling, dan diving. Wellness Tourism juga diprediksi cepat rebound. Banyak orang membutuhkan kebugaran pascakerja rutin yang tinggi, dengan market-nya adalah orang dari kota,” ujarnya.

Peduli lingkungan

Ary menjelaskan, ekowisata merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepedulian wisatawan pada pentingnya menjaga kualitas lingkungan kawasan tempat mereka berwisata, hanya dalam konteks ekowisata perlu penyempurnaan, di mana keuntungan devisa bukanlah kiblat satu-satunya, namun juga memikirkan kelestarian dan pelibatan masyarakat lokal.

“COVID-19 mengajarkan kita banyak hal, selain mitigasi risiko juga salah satunya tentang pentingnya manajemen pengunjung, mengatur kuota, hingga membagi kelompok besar ke dalam kelompok kecil pada saat kegiatan wisata,” tandasnya.

Pasar Papringan di Kabupaten Temanggung adalah wisata budaya yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat.
Pasar Papringan di Kabupaten Temanggung adalah wisata budaya yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat. (Warta Kota/AC Pingkan)

Interpretasi

Sementara itu, Direktur Via Via Tour & Travel, Sry Mujianti, mengatakan, pascapandemi akan terjadi pola perjalanan wisata baru.

Kombinasi alam dan budaya biasanya menjadi pilihan utama wisatawan. Hal ini akan semakin lengkap apabila didukung dengan interpretasi yang kuat di setiap destinasi.

“Sebagai contoh, untuk klaster Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar) biasanya menghubungkan kota-desa, kemudian ada klaster Jawa Timur, mulai dari Malang hingga Banyuwangi. Wisatawan akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan jarak yang relatif dekat atau menempuh waktu lebih singkat,” ujarnya. (*)

Setelah Mendapat Sanksi, PT Angkasa Pura Berkomitmen Terapkan Pembatasan Fisik

Buntut Calon Penumpang Bejubel, Sanksi Berat bagi Batik Air

Industri Wisata Diajak Persiapkan Protokol Kesehatan Selagi Tak Beroperasi

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved