Pascacovid 10

Industri Wisata Diajak Persiapkan Protokol Kesehatan Selagi Tak Beroperasi

Kemenparekraf, bekerja sama dengan kementerian lainnya, sedang menyusun protokol-protokol baru, sebagai persiapan new normal pascapandemi Covid-19.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Instagram/airasia
Pramugari dan pramugara Air Asia Malaysia mengenakan masker dan goggles saat bertugas, untuk melindungi diri dari penularan virus. 

Protokol kesehatan akan menjadi dasar dari sejumlah kebiasaan baru di industri Pariwisata, yang sering juga disebut sebagai new normal.

Tak kurang dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio, yang mengingatkan para pelaku industri pariwisata agar menerapkan protokol kesehatan ini pascapandemi Covid-19.

Menparekraf Wishnutama Kusubandio tampak memperhatikan proses penerimaan tamu di sebuah hotel. Terlihat ada jarak cukup besar antara tamu di depan meja resepsionis dengan tamu berikutnya. Besar kemungkinan jarak antarmanusia ini akan menjadi new normal di sektor perhotelan.
Menparekraf Wishnutama Kusubandio tampak memperhatikan proses penerimaan tamu di sebuah hotel. Terlihat ada jarak cukup besar antara tamu di depan meja resepsionis dengan tamu berikutnya. Besar kemungkinan jarak antarmanusia ini akan menjadi new normal di sektor perhotelan. (kemenparekraf.go.id)

Sebagaimana dimuat dalam siaran pers Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Wishnutama menyatakan soal itu dalam International Tourism Webinar dengan tema “Changes of Tourism Paradigm In the Era of New Normal”, yang diselenggarakan Indonesia Tourism Forum (ITF), Jumat (15/5/2020).

Katanya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) saat ini tengah berkoordinasi dengan kementerian, lembaga dan stakeholder terkait untuk menyiapkan protokol-protokol, yang nantinya bisa diterapkan bagi industri pariwisata pascapandemi.

“Protokol kesehatan hingga keamanan nantinya menjadi perhatian wisatawan. Kami terus bekerja keras untuk merumuskan langkah-langkah strategis, dalam menyiapkan protokol kesehatan dalam rangka mempercepat pemulihan sektor pariwisata,” kata Wishnutama.

Dalam webinar tersebut hadir pula President and CEO of the World Travel and Tourism Council (WTTC) Gloria Guevara Manzo, Chairman Indonesia Tourism Forum Sapta Nirwandar, Ketua PHRI Hariyadi Sukamdani, CEO of Panorama Group Tourism and Hospitality Budi Tirtawisata, Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, dan CEO of Clobothink Consultant, Australasia & Middle East Irshad Cader.

Optimistis

Wishnutama sendiri menyatakan optimistis, sektor parwisata Indonesia dapat pulih lebih cepat dari prediksi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa sektor pariwisata membutuhkan sekitar 5 tahun untuk kembali ke keadaan normal, setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Namun dia meyakini Indonesia bisa berbuat lebih baik dari itu, asalkan diiringi dengan harmonisasi pemangku kepentingan.

Momentum penutupan kawasan wisata akibat pandemi pun disarankan Wishnutama sebagai kesempatan evaluasi, dan menata ulang tempat wisata. Termasuk dalam menerapkan pariwisata berkelanjutan.

“Kita harus menormalkan sektor pariwisata kita lebih cepat karena kita sepenuhnya menyadari bahwa pariwisata adalah tulang punggung perekonomian,” ujarnya.

Sektor pariwisata, kata Wishnutama juga memberikan kontribusi yang signifikan untuk penciptaan lapangan kerja, membawa devisa, investasi, dan merangsang hampir semua sektor lainnya.

Itulah sebabnya, pihaknya bekerja keras untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam mempercepat pemulihan sektor pariwisata, mulai dari sertifikasi sehat hingga menjadi tuan rumah acara MICE dan olahraga internasional di Indonesia pascapandemi, misal menjadi tuan rumah MotoGP Mandalika pada 2021.

New normal

Wishnutama juga menjelaskan, pascapandemi Covid-19 akan terjadi tren baru perubahan perilaku manusia, atau yang disebut new normal. Termasuk salah satunya berdiskusi secara virtual.

“Artinya era digital ini terakselerasi dengan cepat, dan ini bukan menjadi hal yang sementara. Ini harus menjadi kekuatan baru Indonesia, salah satu masa depan yang harus didukung. Untuk itu kita sambut dengan optimistis,” kata Wishnutama.

Menurun drastis

Sebelum pandemi akibat virus corona, industri pariwisata sangat diminati dengan pertumbuhan internasional yang signifikan.

Namun sekarang semuanya tiba-tiba berubah menjadi bencana global. Perkiraan OECD menunjukkan terjadi penurunan 45 persen di kinerja sektor pariwisata internasional pada tahun 2020.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved