Bulan Suci Ramadan

Industri Kue Kering Rumahan Juga Terdampak Wabah Virus Corona

Industri kue kering Lebaran juga terdampak wabah virus corona, berupa turunnya jumlah pesanan.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Janlika Putri
Aneka kue kering untuk suguhan Lebaran buatan Ibu Anna. 

Hari Raya Idul Fitri belum lengkap rasanya apabila tak ada suguhan aneka kue kering tersaji di meja tamu.

Biasanya puasa hari ketujuh para ibu sudah sibuk menguleni adonan, membuat sendiri kue kering untuk disajikan saat Lebaran.

Kastengels, jenis kue kering yang diminati di setiap hari raya.
Kastengels, jenis kue kering yang diminati di setiap hari raya. (Warta Kota/Janlika Putri)

Bila tak punya waktu untuk membuat sendiri kue-kue tersebut, bisa membelinya karena banyak produk kue kering Lebaran tersedia. Salah satunya adalah kue buatan Ibu Anna.

Usaha kue kering rumahan ini sudah empat tahun terakhir selalu menyediakan aneka kue buatannya setiap Ramadan.

Dari sebuah rumah di Bogor, tepatnya di kampung Pangarakan RT 016 RW 006 kelurahan Srogol kecamatan Cigombong, perempuan bernama Anah mengelola bisnis tersebut.

Dia menggunakan merek dari nama panggilannya untuk kue-kue produksinya.

Dia menyambut hangat tim Warta kota travel di dapurnya, dan menceritakan soal bisnisnya tersebut.

Mulai dari urusan dapur dan juga penjualan semuanya dikelola sendiri oleh perempuan berusia 46 tahun tersebut.

Anah, pemilik usaha kue kering rumahan bermerek Ibu Anna
Anah, pemilik usaha kue kering rumahan bermerek Ibu Anna (Warta Kota/Janlika Putri)

Tak jarang putri tunggalnya membantu mengantar kue ke pelanggan.

"Memang ini awalnya usaha iseng saja bukan tetap. Jualannya hanya di bulan puasa , jadi tak mengambil karyawan. Tapi kalau sedang ramai pesanan ada yang bantuin, teman atau anak," ujar perempuan yang bisnis utamanya adalah kedai soto Ibu Anna itu .

Meskipun hanya usaha musiman, namun kue ibu Anna tak hanya beredar di Bogor. Anna juga meiliki pelanggan di Jakarta dan Bandung.

Nastar idola
Ada lima jenis kue kering yang dibuatnya, yaitu Nastar, Kastengel, Putri Salju, Chocochip cookies, dan Sagu Keju.

Namun dari kelimanya yang paling jadi idola adalah kue nastarnya.

Aneka kue kering Lebaran produksi industri rumahan Ibu Anna.
Aneka kue kering Lebaran produksi industri rumahan Ibu Anna. (Warta Kota/Janlika Putri)

"Yang paling banyak dipesan itu kue nastar. Kata orang-orang nastar saya itu beda dan juga bikin kangen. Saya pakai keju pada bagian atas Nastarnya," ujar perempuan yang sangat menggemari dunia kuliner sejak muda itu.

Untuk kue-kuenya, Anna memilih bahan-bahan terbaik karena kualitas snagat diutamakan.

Maka dari itu, Anna berani membanderol harga sedikit lebih mahal dari kue-kue kering rumahan lainnya.

Semuanya produknya dikemas dalam toples mika ukuran 500 gram.

Untuk Chocochip cookies dibandrol dengan harga Rp 80.000, kue Sagu Keju dan Putri Salju Rp 82. 000, lalu Nastar dan Kastengel seharga Rp 85.000.

"Harga tersebut belum termasuk ongkos antar. Ongkos antar ditanggung oleh pemesan kue sendiri. Tapi kalau dekat bebas ongkir," katanya.

Pesanan menurun

Sudah empat kali Ramadan Anna berjualan aneka kue kering, dan dia kebanjiran pesanan.
Namun, katanya, tahun ini dia merasa tahun ini akan berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Dia menyebutnya sebagai tahun terpayah, karena dia masih bisa santai pada Ramadan hari ketujuh.

Padahal biasanya dia sudah sibuk memproduksi kue setiap hari.

"Tahun lalu bisa produksi sampai 100 toples lebih dalam sebulan. Setiap hari buat, sampai sibuk sekali setiap harinya. Sebelum puasa biasanya sudah ada pesanan. Tahun ini Corona sangat mempengaruhi ya. Ini saja baru 11 toples saja yang dipesan di pertengahan puasa dengan menawarkankan sana sini," ujar Anna mengungkapkan.

Harga bahan untuk membuat kue saat ini juga dikeluhkan Anna, karena naik.

Hal ini berimbas ke biaya produksi yang menjadi lebih tinggi. Maka dari itu tahun ini Anna menaikkan harga kuenya.

Bila sebelumnya dia sibuk produksi setiap hari untuk stok dagangannya, kini dia baru membuat ketika ada pesanan. Hal ini untuk mensiasati kerugian biaya produksi.

Kendati demikian, Anna tetep bersyukur dan berjualan dengan senang hati.

"Saya berpendapat ini adalah sebuah ujian. Tidak semua bisnis itu selalu di atas, pasti ada kalanya di bawah. Saya juga bersyukur masih ada yang pesan kue. Saya menjalankan ini pun awalnya karena mengisi waktu luang, ada yang usahanya lebih menurun dari saya di luar sana karena wabah ini. Maka dari itu saya selalu bersyukur dan tetap bersemangat," ujar Anna.

Ibu Anna bau saja mengeluarkan satu loyang kastengels dari oven.
Ibu Anna bau saja mengeluarkan satu loyang kastengels dari oven. (Warta Kota/Janlika Putri)

Untuk promosi produknya, Anna mengandalkan metode dari mulut ke mulut. Usahanya juga belum memiliki akun resmi di media sosial.

Namun tahun ini dia dan putrinya mempromosikan kue mereka lewat grup chat.

Anna juga mengatakan, bila ingin memesan untuk mereka yang tinggal di wilayah Bogor bisa langsung menghubunginya di nomor 0895330335387.

Lalu untuk wilayah Jakarta bisa menghubungi Desti, putrinya yang tinggal di Jakarta, di nomor 081290983148.

Sumber: Warta Kota

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved