Dampak wabah Covid 19

5 Strategi Ini Diyakini Bisa Menyelamatkan Sektor Perhotelan dari Krisis Covid-19

Ada lima cara yang bisa diambil pengusaha hotel untuk menyelamatkan bisnis, di masa pandemi Covid-19.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Kimpton La Peer Hotel
Ilustrasi kamar hotel. 

Pandemi Covid-19 ini memberikan pukulan yang telak kepada industri pariwisata di seluruh dunia.

Sektor perhotelan tak terkecuali, juga terkena pukulan tersebut

Ibarat petinju yang terkena pukulan hook di dagu, industri hotel sekarang sedang terkapar di matras, dengan wasit sedang menghitung sampai 10 sebelum menyatakan petinju itu knock-out (KO).

Tentu saja, supaya tidak kalah KO petinju itu harus segera bangun dan bertanding lagi. Bahkan kalau bisa gantian meng-KO lawannya.

Begitu juga dengan industri perhotelan, terutama di Indonesia, harus segera bangkit dan berjuang kembali. Pasalnya ada banyak mulut yang tergantung pada sektor industri ini.

Pertanyaannya tentu bagaimana. Pasalnya, pandemi akibat virus corona ini saja belum tahu kapan akan berakhir.

Situs Travel Daily News merangkum sebuah webinar bertajuk "I Met Hotel", yang diselenggarakan pada 15 April lalu.

Bidroom, sebuah aplikasi pemesanan hotel yang menyelenggarakan webinar ini mengundang empat tokoh bisnis sebagai pembicara. Keempatnya dianggap memiliki kreativitas, jago strategi jangka panjang, dan pandai menelurkan taktik memperoleh pendapatan dengan cepat.

Meskipun webinar ini diselenggarakan di Inggris, bukan berarti pengusaha hotel di Indonesia tak boleh mempelajari strategi dan taktik agar menyintas dari krisis ini.

Staycation
Callum Hale-Thomson, selaku VP Business Development Unwrapped, menyarankan pengusaha hotel mempersiapkan program-program staycation yang menarik.

Tenda model yurt Mongolia di Highland Park Reort, dengan latar belakang Gunung Salak.
Tenda model yurt Mongolia di Highland Park Reort, dengan latar belakang Gunung Salak. (Warta Kota/Janlika Putri)

Pengusaha hotel pasti sudah stacation itu apa, namun pasti banyak masyarakat umum yang awam dengan istilah ini. Secara gampangnya, staycation adalah berlibur tapi tetap di dalam kota.

Atau bisa disebut juga berlibur yang tidak jauh-jauh dari kota tempat tinggal kita.

Nah, Hale-Thomson menyarankan staycation ini berdasarkan beberapa analisisnya. Pertama, meski wabah Covid-19 sudah berlalu, namun masyarakat masih takut bepergian jauh-jauh.

Maka, katanya, jangan mengharapkan dulu kedatangan turis-turis dari luar negeri akan datang menginap. Karena itu fokus harus diarahkan kepada wisatawan domestik, bahkan wisatawan lokal alias penduduk kota tempat hotel itu berada.

"Targetkan Escapists - atau orang-orang yang ingin melarikan diri dari rutinitas, menjauhi kebisingan -dan Opportunists -orang yang ingin sekadar dimanja dengan harga yang terjangkau -" kata Hale-Thomson dalam webinar tersebut.

Selain tamu yang tinggal sekota, boleh juga menyasar tamu dari kota lain. Untuk tamu domestik dari kota lain ini, pihak hotel harus bisa memberikan pengalaman yang mengesankan.

Kerja sama lokal

"Bukan hanya pengalaman pelayanan di area hotel, melainkan pengalaman menyeluruh destinasi atau kota tersebut," kata Hale-Thomson.

Untuk itu hotel harus bekerja sama dengan sektor lainnya di industri wisata, seperti pengusaha taksi dan penyewaan mobil, restoran yang unik, sasana kebugaran, atraksi wisata, dan pemandu wisata.

Mural di Kampoeng Djadoel Semarang menjadi obyek wisata baru di Ibu Kota Jawa Tengah tersebut.
Mural di Kampoeng Djadoel Semarang menjadi obyek wisata baru di Ibu Kota Jawa Tengah tersebut. (Warta Kota/AC Pingkan Ulaan)

Tentu saja kerja sama tersebut bersifat business to business yang artinya setiap pihak memperoleh untung.

Bagi tamu sendiri, dia akan mendapatkan pengalaman paripurna selama liburan tersebut.

Nilai tambah

Pembicara lainnya, James Lemon, juga manyatakan hal yang tak jauh berbeda dari Hale-Thomson, yakni fokus ke pasar domestik.

Namun pendiri dan CEO The Growth Works ini lebih mendetailkan apa yang dilakukan pengusaha hotel, yakni memberi nilai tambah kepada produknya.

Singapore Sling di Long Bar dan jamuan Afternoon Tea di The Grand Lobby.
Singapore Sling di Long Bar dan jamuan Afternoon Tea di The Grand Lobby. (www.raffleshotel.com)

Katanya, pemilik hotel dan tim yang mengelola harus fleksibel dan lincah dalam membuat skenario perencanaan, dan memonitor pergerakan pasar.

Cara pertama adalah membuat situs pemesanan menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat lokal dan wisatawan domestik, sehingga mereka mudah melakukan pemesanan.

Langkah berikutnya adalah membuat paket yang bernilai tinggi bagi konsumen. Untuk itu mereka bisa bekerja sama dengan sektor lainnya di industri wisata.

"Bukan berarti menurunkan harga, tapi menciptakan paket dari harga tertinggi dalam pentarifan. Kemudian menambah makan, penggunaan sasana kebugaran, atau paket minum teh ke paket tersebut, sehingga harga tersebut terlihat sangat ekonomis dan bernilai. Namun jangan lupa memeriksa paket mana yang bekerja dengan baik dan mana yang tidak," kata Lemon.

Gift voucher

Upaya lain yang bisa dilakukan oleh pengusaha hotel adalah mulai membuat gift voucher yang menarik.

Saran itu disampaikan oleh Eleanor Petronzio, Head of Client Development SK Chase.

Katanya, pada masa ini semakin banyak orang yang memberikan hadiah voucher hotel kepada orang terkasih, atau anggota keluarga.

Bentuknya bisa voucher menginap, voucher spa, atau voucher jamuan teh sore hari. Voucher tersebut berlaku selama dua tahun atau lebih.

"Selama ini voucher-voucher itu menghasilkan tambahan pemasukan instan bagi hotel. Dan sebanyak 23 persen voucher ternyata tak pernah digunakan," kata Petronzio.

Menurut Petronzio, dalam beberapa pekan terakhir ini dia mencatat kenaikan pembelian voucher menginap, spa, dan makan di restoran.

Dia menduga, konsumen tersebut berniat memberi hadiah bagi dirinya sendiri, atau keluarganya, hadiah karena berhasil melewat pandemi Covid-19.

Layanan pesan-antar
Peluang lain yang bisa ditangkap pengusaha hotel adalah penjualan makanan dengan layanan pesan-antar. Hal ini yang disampaikan pembicara keempat, Angus Wilson.

Brand Activation Uber Eats ini menjelaskan bahwa layanan pesan-antar di industri kuliner di Inggris memiliki nilai 8,4 miliar poundsterling, atau sekitar Rp 162,3 miliar, di tahun 2019. Angka tersebut naik 18 persen dari tahun sebelumnya.

Program Delivery by JW dai Hotel JW Marriott Jakarta.
Program Delivery by JW dai Hotel JW Marriott Jakarta. (Istimewa/JW Marriott)

Menurut Wilson,hal ini menunjukkan bahwa layanan pesan-antar makanan adalah tren zaman sekarang, dan masih akan terus berlanjut bahkan meluas ke semua negara di dunia setelah pandemi virus corona berakhir.

Maka, sesuai dengan bidang yang sedang dilakukan Wilson saat ini, yakni Uber Eats, dia menyarankan agar hotel juga mengadopsi tren ini.

Restoran yang ada di hotel juga menerima pesanan dari masyarakat di sekitarnya, sekaligus membangun kedekatan dengan komunitas masyarakat di mana mereka berada.

Saran Wilson ini sebenarnya sudah dilakukan oleh dua hotel bintang lima di Jakarta, yakni Hotel Mulia Senaya dan Hotel JW Marriott Kuningan.

Kreatif berinovasi
Menutup webinar tersebut, Caroline Dal’lin, Director of Business Development Bidroom yang bertindak sebagai tuan rumah, menyimpulkan bahwa pengusaha hotel harus kreatif dan fleksibel dalam menjalin kerja sama dengan rekan-rekan baru di sekitar mereka.

Dengan begitu ada peluang memperoleh profit kembali, dari cara-cara baru yang tak terpikirkan sebelum wabah merebak.

"Ini semua tergantung dari kita semua untuk berinovasi, mengantisipasi, dan beradaptasi dengan perubahan," kata Dal'lin menutup acara.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved