Dampak wabah Covid 19

Apakah Pembatasan Sosial Akan Berlanjut di Sektor Transportasi Pasca Pandemi Covid-19?

Pembatasan sosial diyakini Devin Liddell akan berlanjut usai Pandemi Covid-19, dan membawa dampak positif serta negatif.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Rangga Baskoro
Suasana Terminal Terpadu Pulogebang pada Kamis (9/4/2020) siang. Terlihat hanya ada beberapa calon penumpang. 

Pandemi Covid-19 membuat industri pariwisata koma, karena masyarakat dilarang bepergian untuk memutus rantai penularan virus corona.

Maka tak mengherankan jika Devin Liddell, seorang futuris dan konsultan strategi, meramalkan akan terjadi perubahan besar dalam hal cara manusia bepergian.

Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand terlihat sepi pada awal Februari 2020. Industri penerbangan Thailand terkena dampak cukup besar dari wabah virus corona.
Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand terlihat sepi pada awal Februari 2020. Industri penerbangan Thailand terkena dampak cukup besar dari wabah virus corona. (Warta Kota/AC Pingkan)

Menurut Liddell, dalam tulisannya yang dilansir situs Fast Company, wabah Covid-19 ini membuat manusia menyadari bahwa perubahan iklim membuat manusia semakin berisiko menghadapi pandemi lain di masa yang akan datang.

"Baik itu dari virus yang sudah ada sekarang, atau virus baru, risiko pandemi semakin meningkat karena perubahan iklim ini. Karena itu, kebiasaan manusia selama ini, yakni kaget, pontang-panting, setelah itu amnesia berjemaah, harus dihentikan," kata Liddell dalam tulisannya yang bertajuk "COVID-19 could forever change how we travel—for better or worse".

Menurut Liddell, manusia harus berubah dari cara hidupnya saat ini. Yang dimaksudnya dengan manusia bukan hanya individu, namun secara sistem.

Pria yang bekerja di Teague, perusahaan yang merancang desain strategi bagi perusahaan transportasi, ini menyarankan perubahan sebaiknya dimulai di sektor transportasi.

Alasannya, pandemi Covid-19 ini terjadi karena perpindahan manusia antarkota, antarnegara, bahkan antarbenua. Dan perpindahan manusia tak akan menjadi begitu cepat dan luas jika tak didukung sarana transportasi modern.

Maka Liddell menyarankan agar praktik pembatasan sosial, yang saat ini dilakukan di sarana transportasi umum, sebaiknya dilanjutkan meski pun masa wabah sudah lewat.

"Dengan berbagai skenario tentang akhir pandemi ini di pikiran saya, baik yang berakhir baik dan sempurna maupun yang berakhir dengan bencana bagi kemanusiaan, inilah dua perubahan yang mungkin akan terjadi berdasarkan dua hasil akhir itu," ujar Liddell.

1. Tak ada sentuhan

Antrean calon penumpang di loket penjualan langsung di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Kamis (5/12/2019). PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyatakan tiket kereta api untuk masa Angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 sudah terjual sekitar 30-40 persen sejak H-30. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha.
Antrean calon penumpang di loket penjualan langsung di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Kamis (5/12/2019). PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyatakan tiket kereta api untuk masa Angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 sudah terjual sekitar 30-40 persen sejak H-30. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha. (Warta Kota/ Angga Bhagya Nugraha)

Antre, berdesak-desakan, senggolan, adalah suasana bandara, stasiun kereta api, atau terminal bus pada saat ini.

Nantinya semua itu aka dihilangkan, sehingga tak ada lagi cerita sentuhan tubuh antarpenumpang di angkutan umum.

Bahkan, menurut Liddell, sentuhan manudia dengan benda juga akan hilang, karena semuanya beroperasi secara otomatis.

Mesin check-in mandiri, ATM, dan mesin penjual tiket tak lagi dioperasikan dengan sentuhan. "Semua akses akan contactless (tanpa kontak). Mungkin nanti mengoperasikannya dengan gerak-gerik tubuh atau pergerakan bola mata," tulis Liddell.

Dia juga membayangkan, petugas kebersihan di tempat-tempat umum bukan lagi manusia, melainkan robot yang setiap semit akan menyemprotkan cairan disinfektan di permukaan.

Efek dari kebutuhan akan mesin dan fasilitas tanpa sentuhan ini tentu saja akan memicu perkembangan teknologi dan industri robot di seluruh dunia.

"Ramalan" Liddell ini baik juga disimak oleh ilmuwan dan pengusaha Indonesia, terutama yang berkutat di teknologi "tanpa sentuhan", untuk menyambut tantangan ini.

"Dengan sistem otomatis seperti ini, maka masa depan akan sangat efisien dan sangat bersih," ujar Liddell.

2. Tanpa emosi

Ilustrasi Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta.
Ilustrasi Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Namun Liddell juga mengingatkan bahwa situasi dengan sitem otomatis dan modern ini juga memiliki dampak negatif.

Namanya juga mesin atau komputer, tetap saja ada kemungkinan rusak. Sial bagi calon penumpang yang menggunakan sistem yang tiba-tiba rusak tersebut.

Bayangkan seperti di ATM, mesin itu tadinya baik-baik saja saat digunakan orang sebelumnya, namun tiba-tiba ngadat begitu digunakan nasabah berikutnya. Lebih sial lagi jika kartu ATM sudah masuk ke mesin, dan tak ada petugas manusia yang bisa membantu.

Itu baru satu risiko negatif dari sistem serba otomatis tanpa manusia.

Kemungkinan lainnya yang terpikir Liddell adalah mesin tak memiliki empati. Maka layanan bantuan khusus (special assist) bagi penumpang yang membutuhkan (orang tua, orang berkebutuhan khusus, atau orang sakit) tak lagi memiliki sentuhan emosi.

"Dunia mungkin akan lebih efisien dan bersih dengan sistem otomatis ini. Namun tak ada lagi suasana hangat dan manusiawi. Kemudian orang-orang akan mengeluh dalam hati bahwa sedikit kuman masih lebih baik daripada situasi tanpa emosi dan terisolasi," kata Liddell.

3. Sensor canggih

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soetta sedang memeriksa suhu seorang penumpang yang baru datang dari Tiongkok.
Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soetta sedang memeriksa suhu seorang penumpang yang baru datang dari Tiongkok. (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Meluasnya penyebaran virus corona ini juga disebabkan belum ada alat pengindera kondisi tubuh manusia yang supercanggih.

Bandar udara hanya mengandalkan sensor panas tubuh penumpang, untuk menentukan kondisi penumpang saat itu. Saat sensor mendeteksi temperatur 38 derajat Celcius, baru orang tersebut diperiksa oleh dokter.

Hanya saja metode ini ternyata kurang tepat, karena tak bisa mendeteksi orang yang sudah terpapar virus corona namun belum sampai jatuh sakit. Makanya banyak negara yang kecolongan.

Menurut Liddell, kecolongan tersebut mendorong manusia menciptakan alat dan sistem yang lebih canggih lagi.

"Nantinya sensor ini tidak hanya mendeteksi suhu tubuh manusia, tapi juga akan mengatur supaya jangan ada antrean, dan menjaga interaksi manusia dalam bidang lahan yang sama," katanya.

Penginderaan itu tidak berhenti di dalam bandara, stasiun, atau terminal, tapi juga berlanjut sampai kendaraan lanjutan yang digunakan setiap orang.

Dalam bayangan Liddell, saat penumpang menggunakan aplikasi ride-sharing dia sudah bisa tahu rekan seperjalanannya dan kondisi kesehatannya.

Calon penumpang kereta api commuter juga bisa melihat jumlah penumpang di ka yang akan datang, dan gerbong mana yang kosong. Dengan begitu dia bisa merencanakan akan naik di gerbong yang mana.

Pokoknya sistem baru ini menjanjikan kenyamanan bagi penumpang, dan efisien bagi pengusaha transportasi.

4. Tak ada privasi

Hanya saja, semua kecanggihan untuk kenyamanan dan efisiensi itu ada harganya, yakni semakin berkurangnya privasi manusia.

Sensor tersebut akan mengambil semua data individu, tanpa disadari individu tersebut.

"Celakanya, hal ini bisa memunculkan penyalahgunaan. Ambil contoh dalam kasus ride-sharing, penumpang menggunakan data ini untuk menolak orang yang tidak sama dengan dirinya. Bisa terjadi perlakuan SARA," ujar Liddell.

Dia juga khawatir ada bias SARA dalam pengaturan jarak antarmanusia, sehingga yang terjadi adalah pengumpulan orang berdasarkan rasnya.

Kemungkinan lain yang mengkhawatirkannya adalah, di masa mendatang akan lebih banyak kasus enochlophobia, atau takut akan kerumunan, karena manusia jadi tak biasa berdekatan dengan manusia lain.

Dengan kata lain, kecanggihan teknologi yang tadinya untuk melindungi manusia, malah menimbulkan masalah-masalah baru.

Itulah empat kemungkinan yang dibayangkan Devin Liddell pasca-pandemi Covid-19. Ada yang baik dan buruk.

Apa yang dibayangkan itu belum tentu terjadi, namun setidaknya, kata Liddell, dengan bayangan tersebut manusia bisa memilih sistem yang bisa mencegah terulangnya situasi pandemi ini, tanpa menihilkan rasa kemanusiaan.

Bandara Soekarno Hatta dan Halim Perdanakusuma Tetap Beroperasi Selama PSBB di Jakarta

Tak Ada KA Bandara Soekarno Hatta dan Kualanamu Medan Sampai 31 Mei 2020

Pelaku Industri Pariwisata Diimbau Siapkan Paket Liburan Akhir Tahun dari Sekarang

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved