Dampak wabah Covid 19

Apakah Pembatasan Sosial Akan Berlanjut di Sektor Transportasi Pasca Pandemi Covid-19?

Pembatasan sosial diyakini Devin Liddell akan berlanjut usai Pandemi Covid-19, dan membawa dampak positif serta negatif.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Rangga Baskoro
Suasana Terminal Terpadu Pulogebang pada Kamis (9/4/2020) siang. Terlihat hanya ada beberapa calon penumpang. 

Namanya juga mesin atau komputer, tetap saja ada kemungkinan rusak. Sial bagi calon penumpang yang menggunakan sistem yang tiba-tiba rusak tersebut.

Bayangkan seperti di ATM, mesin itu tadinya baik-baik saja saat digunakan orang sebelumnya, namun tiba-tiba ngadat begitu digunakan nasabah berikutnya. Lebih sial lagi jika kartu ATM sudah masuk ke mesin, dan tak ada petugas manusia yang bisa membantu.

Itu baru satu risiko negatif dari sistem serba otomatis tanpa manusia.

Kemungkinan lainnya yang terpikir Liddell adalah mesin tak memiliki empati. Maka layanan bantuan khusus (special assist) bagi penumpang yang membutuhkan (orang tua, orang berkebutuhan khusus, atau orang sakit) tak lagi memiliki sentuhan emosi.

"Dunia mungkin akan lebih efisien dan bersih dengan sistem otomatis ini. Namun tak ada lagi suasana hangat dan manusiawi. Kemudian orang-orang akan mengeluh dalam hati bahwa sedikit kuman masih lebih baik daripada situasi tanpa emosi dan terisolasi," kata Liddell.

3. Sensor canggih

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soetta sedang memeriksa suhu seorang penumpang yang baru datang dari Tiongkok.
Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soetta sedang memeriksa suhu seorang penumpang yang baru datang dari Tiongkok. (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Meluasnya penyebaran virus corona ini juga disebabkan belum ada alat pengindera kondisi tubuh manusia yang supercanggih.

Bandar udara hanya mengandalkan sensor panas tubuh penumpang, untuk menentukan kondisi penumpang saat itu. Saat sensor mendeteksi temperatur 38 derajat Celcius, baru orang tersebut diperiksa oleh dokter.

Hanya saja metode ini ternyata kurang tepat, karena tak bisa mendeteksi orang yang sudah terpapar virus corona namun belum sampai jatuh sakit. Makanya banyak negara yang kecolongan.

Menurut Liddell, kecolongan tersebut mendorong manusia menciptakan alat dan sistem yang lebih canggih lagi.

"Nantinya sensor ini tidak hanya mendeteksi suhu tubuh manusia, tapi juga akan mengatur supaya jangan ada antrean, dan menjaga interaksi manusia dalam bidang lahan yang sama," katanya.

Penginderaan itu tidak berhenti di dalam bandara, stasiun, atau terminal, tapi juga berlanjut sampai kendaraan lanjutan yang digunakan setiap orang.

Dalam bayangan Liddell, saat penumpang menggunakan aplikasi ride-sharing dia sudah bisa tahu rekan seperjalanannya dan kondisi kesehatannya.

Calon penumpang kereta api commuter juga bisa melihat jumlah penumpang di ka yang akan datang, dan gerbong mana yang kosong. Dengan begitu dia bisa merencanakan akan naik di gerbong yang mana.

Pokoknya sistem baru ini menjanjikan kenyamanan bagi penumpang, dan efisien bagi pengusaha transportasi.

4. Tak ada privasi

Hanya saja, semua kecanggihan untuk kenyamanan dan efisiensi itu ada harganya, yakni semakin berkurangnya privasi manusia.

Sensor tersebut akan mengambil semua data individu, tanpa disadari individu tersebut.

"Celakanya, hal ini bisa memunculkan penyalahgunaan. Ambil contoh dalam kasus ride-sharing, penumpang menggunakan data ini untuk menolak orang yang tidak sama dengan dirinya. Bisa terjadi perlakuan SARA," ujar Liddell.

Dia juga khawatir ada bias SARA dalam pengaturan jarak antarmanusia, sehingga yang terjadi adalah pengumpulan orang berdasarkan rasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved