Dampak wabah Covid 19

Lebih 90 Hari Tak Terbang, Pilot di Inggris Harus Ujian Lagi

Di Inggris, pilot yang lebih dari 90 hari tak terbang akibat pandemi Covid-19, harus ikut ujian kecakapan sesuai regulasi.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
pexels.com
Ilustrasi pesawat. 

Salah satu dampak dari pandemi Covid-19 ini adalah maskapai penerbangan mengurangi, bahkan menghentikan operasinya, karena jumlah penumpang berkurang dan banyak negara menutup bandar udaranya.

Dampak ini ternyata membawa imbas lain, terutama bagi para pilot penerbangan komersial di Inggris.

Ilustrasi pilot dan kokpit pesawat terbang.
Ilustrasi pilot dan kokpit pesawat terbang. (Pexels/Rafael Cosquiere)

Sebagaimana diwartakan CNN Travel, para jurumudi pesawat terbang itu jadi kehilangan jam terbang yang ternyata sangat penting bagi profesi mereka.

Karena itu, begitu nanti pandemi dinyatakan tuntas, dan pesawat-pesawat akan mengudara kembali, para pilot ini harus ikut ujian dulu untuk bisa membawa pesawat terbang lagi.

Dengan begitu, bukan hanya anak sekolah, para pilot juga harus terus belajar saat harus tinggal di rumah.

"Pilot memerlukan latihan yang sering dan aktual untuk bisa terbang," kata Brian Strutton dari British Airline Pilots Association (Balpa), yang dikutip oleh CNN Travel.

Aturan tersebut tak lain dan tak bukan untuk memastikan bahwa para pilot memenuhi standar keselamatan penerbangan yang memang ketat.

Syarat 

Syarat aktual dalam regulasi adalah pilot sukses melakukan tiga kali lepas landas dan pendaratan dalam kurun waktu 90 hari. Satu di antaranya harus menggunakan fasilitas instrumen pendaratan otomatis (autoland) di kokpit.

Agar memenuhi syarat terbang siang dan malam, pilot penerbangan komersial juga harus melakukan tiga lepas landas dan pendaratan pada malam hari, dalam kurun waktu 90 hari.

Regulasi juga mensyaratkan para pilot melakukan License Proficiency Check, alias penilaian kecakapan, setiap tahun. Ujian ini akan berpengaruh kepada lisensinya sebagai pilot.

Sementara, maskapai penerbangan di Inggris juga diharuskan menguji para pilotnya setiap enam bulan sekali, soal kecakapan operasional mereka.

Simulator

Untungnya, seperti dinyatakan Adam Twidell, seorang pilot berpengalaman dan CEO PrivateFly, ujian kecakapan itu bisa dilakukan menggunakan simulator khusus, yang disebut Level D.

Simulator ini paling canggih karena memberikan ketajaman dan kejelasan tingkat tinggi, serta respons yang cepat seperti sedang menerbangkan pesawat sesungguhnya.

Hanya saja, seperti yang terjadi di Inggris, banyak fasilitas yang menyediakan simulator canggih itu tutup pada saat ini.

Para pilot mungkin saja bisa melatih kecakapan mereka lewat gim komputer, misalnya Microsoft Fligh Simulator.

Namun gim-gim tersebut sangat terbatas kemampuannya, dan tak bisa menyamai simulator Level D.

Bukan cuma itu, pada saat latihan itu pilot harus didampingi instruktur, pengawas, dan ko-pilot.

Hambatan

Soal simulator ini akan memunculkan masalah berikutnya, yakni akan terjadi antrean panjang di fasilitas simulator.

"Ketika maskapai penerbangan ingin buru-buru beroperasi secara normal, mereka terhambat masalah ini," ujar Twidell.

Masalah lainnya, biaya menggunakan simulator Level D itu antara 300-400 dolar AS, atau sekitar Rp 4,7 juta sampai Rp 6,3 juta. Itu belum termasuk membayar instruktur dan pengawas.

Jika pandemi Covid-19 ini terus berlanjut, maka para awak kabin juga harus melakukan ujian kecakapan lagi akibat terlalu lama tidak terbang.

Untuk mengatasi persoalan yang akan muncul itu, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) berencana melonggarkan sedikit aturan mereka, dengan memberi masa yang lebih panjang untuk waktu kadaluwarsa lisensi pilot dan awak kabin.

Namun pembolehan itu hanya diberikan kepada maskapai yang mengajukan permohonan, dengan menyertakan program latihan pilot yang terinci.

Itu pun, pihak EASA akan menilai dulu apakah program latihan itu memenuhi standar mereka.

Kelonggaran juga diberikan oleh Federasi Keselamatan Penerbangan Amerika Serikat (FAA).

Namun kelonggaran itu hanya untuk persyaratan sertifikat kesehatan pilot, yang jatuh tempo pada 31 Maret - 30 Juni 2020.

Jika sertifikat kesehatannya kadaluwarsa pada masa itu, pilot tersebut masih boleh menerbangkan pesawat sampai batas waktu tertentu.

Dengan Tagar TakingYouHome, Qatar Airways Operasikan 150 Pesawat ke 70 Destinasi

Cek Informasi Penerbangan Selama Covid-19 di Situs PT Angkasa Pura II

Tenang, Cuti Bersama Digeser ke Bulan Desember 2020

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved