Tinggal Sendirian di Belanda, Tjoet Merawat Dirinya Sendiri Saat Tertular Covid-19

Tinggal sendirian di Amsterdam, Belanda, Tjoet harus merawat dirinya sendiri saat dinyatakan tertular Covid-19. Ini kiatnya memulihkan diri.

Tinggal Sendirian di Belanda, Tjoet Merawat Dirinya Sendiri Saat Tertular Covid-19
Pixabay
Rijksmuseum di Amsterdam, Belanda. 

Tjoet juga menguatkan dirinya dengan berdoa, meminta tambahan kekuatan secara mental dari Yang Maha Kuasa.

"Bagi yang Islam, sholat dan berzikirlah. Bagi yang Nasrani, salat teduh, berdoa,
dan mendengarkan khotbah penguatan."

5. Belajar dari motivator

Tjoet mengaku dia belajar mengendalikan pikirannya dengan menonton video Marisa Peer, terutama tentang melatih kekuatan pikiran.

Motivator asal Inggris ini memang kondang dengan metodenya menyembuhkan penyakit, dengan mengandalkan kekuatan pikiran.

Selain Marisa Peer, Tjoet juga belajar dari Wim Hof yang juga bicara soal kekuatan pikiran.

Ada temannya yang mengirimkan video motivator, yang mempunyai julukan Iceman, ini. Di sana Hof mengatakan bahwa manusia harus memahami dirinya sendiri.

Selain bicara soal kekuatan pikiran Hof juga menyarankan melakukan sebuah teknik pernapasan, yang dilakukan Tjoet juga sampai sekarang.

"Saya sudah lama mendapatkan informasi tentang Wim Hof, tapi karena saya tidak mau keluar dari zona nyaman, maka saya belum melakukannya. Ketika teman saya mengirimkan videonya, saya pikir kali ini memang saya harus mencobanya. Dan memang, menurut saya membantu," ujar Tjoet.

6. Mandi air dingin

Salah satu metode Wim Hof adalah mandi air dingin, yang benar-benar dingin seperti es.

"Kebetulan di Belanda kalau musim-musim sekarang airnya sudah pasti akan seperti air es. Setelah mandi air es ini memang benar badan saya merasa lebih baik," katanya.

Namun Tjoet juga mengingatkan, metode mandi air es ini harus dilakukan sesuai aturan agar jangan terjadi hipotermia.

Karena Tjoet sudah bertahun-tahun tinggal di Belanda, maka tubuhnya bisa menghadapi dingin lebih baik dari warga negara-begara tropis.

"Tapi saya memang sudah mempersiapkan diri dengan baik. Saya sendiri sudah punya banyak pengalaman dengan mandi air dingin rasa es. Jadi tolong hati-hati ya," katanya.

7. Selalu bicara

Salah satu masalah dari tinggal sendiri adalah tidak ada teman bicara. Maka Tjoet mengajak bicara dirinya sendiri.

Dia melakukannya bukan sekadar dalam hati, tetap juga diucapkan. Isi pembicaraan itu adalah menyemangati dirinya.

"Ini contoh percakapannya, 'Eh, kita belum makan? Enggak lapar? Ya sudah tunggu dulu. Tapi nanti makan, oke? Iya'. Lalu,'eh, sudah jam 11 nih, belum sarapan. Ayo bergerak, siapin
sarapan. Sekarang bergerak! Iya oke.' Lalu saya ke dapur menyiapkan makanan," katanya.

8. Latihan pernapasan

Sejak menderita sakit ini, Tjoet selaku melakukan latihan pernapasan dari Wim Hof.

Namun, katanya, teknik pernapasan apa pun bisa dilakukan, karena yang penting adalah memasok oksigen sebanyak-banyaknya untuk tubuh.

"Karena menurut saya, yang sering terjadi pada penderita Covid-19 adalah keadaan di mana mereka kekurangan oksigen. Sebelum kita diberikan ventilator, atau keadaan lebih parah; maka kita harus memberikan pasokan oksigen yang memadai," ujar Tjoet.

9. Jalin kontak

Tjoet juga bicara dengan orang lain, baik lewat telepon, bicara langsung dalam jarak aman, dan juga ngobrol dengan teman-teman lewat media chatting.

10. Menghibur diri

Selain itu dia berusaha membuat dirinya senang dengan nonton YouTube atau Netflix, dan membaca.

Nmaun dia menyarankan tidak membaca berita yang terlalu serius, apalagi berita mengerikan tentang Covid-19.

"Jika merasa harus baca, silahkan. Tapi filter dan berhenti jika merasa tertekan. Pokoknya yang penting adalah kita harus merasa rileks," katanya.

11.  Jangan patah semangat

Saat memberi tahu dirinya menderita Covid-19, dokternya juga menginformasikan bahwa proses penyembuhan bisa sampai 6 pekan.

Informasi itu yang membuatnya sempat patah semangat. Nmaun informasi itu pula yang menjadi acuan Tjoet jika segala daya upayanya tak menunjukkan perkembangan positif.

Tjoet menulis, memasuki pekan kedua, sakitnya terasa tambah parah. Namun kini, di awal pekan 3, tubuhnya sudah jauh membaik. Karena itu da membagikan kiat-kiatnya.

Intinya, tetap semangat meskipun progres kesembuhan terasa lambat.

12. Minum air hangat

botol air minum
botol air minum (urbanoutfitters.com)

Mwnurut Tjoet, minum air hangat juga sangat membantunya dalam memulihkan diri.

Pada pekan pertama sakit, dia sudah banyak-banyak minum air sesuai anjuran. Nmaun yang diminumnya masih air dingin.

"Memasuki hari ke-8, mulut saya mulai terasa kering. Sebelum-sebelumnya tidak terasa begitu. Biasanya saya termasuk unta, bisa tahan tidak minum dalam waktu lama," katanya.

Kemudian Tjoet mengubah kebiasaanya, meski pun terpaksa. Dia menyiapkan air hangat dalam termos, dan dalam sehari dia bisa minum sampai 3 liter air hangat.

13. Jamu

Minum jamu juga dirasa Tjoet membantu proses pemulihan dirinya.

Dia mencampur parutan bawang putih dan jahe dengan air lemon, cuka apel, dan madu, dan ramuan ini diminumnya setiap hari.

"Di awal minggu kedua saya minum sekitar 5-10 sendok per hari yang dibagi menjadi 2-3 kali.
Tapi di minggu berikutnya, saya kurangi kadarnya menjadi 4 sendok makan per hari," katanya.

Jamu ini dicobanya setelah membaca pernyataan Bimal Chhajer, Direktur SAOOL Heart Centre di New Delhi, bahwa jamu itu baik untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Menurtu Tjoet, di akhir pekan 2 sakitnya, ada teman datang membawa temulawak. Maka dia membuat jamu empon-empon dan kunyit asam.

Jamu empon-empon diminymnya dua kali sehari, sementara kunyi asam sekali sehari.

14. Inhalasi

Untuk melancarkan sistem pernapasannya, perempuan lulusan Universitas Indonesia ini melakukan inhalasi mandiri.

Caranya, dia merebus bawang putih yang sudah digeprek, dan uap air rebusan itu dihirupnya. Pada saat melakukannya, dia mengenakan kain untuk menutupi kepala dan panci sehingga tak ada uap yang keluar.

Tjoet mengaku yang dipraktikkannya cukup ekstrem, yakni pancinya masih berada di atas kompor yang menyala.

"Kata dokter jarak jauh saya dari Cirebon, inhalasi dari kompor itu tidak boleh karena bisa luka bakar di 'nasopharing'. Saya melakukan itu karena ingin airnya tetap panas saja, karena benar-benar melegakan pernapasan," tulis Tjoet.

15. Konsumsi makanan bergizi

Selama sakit, Tjoet tak menyantap mi instan dan makanan tak bergizi dulu.

Dia memilih penganan yang bis ameningkatkan imun tubuh, seperti jeruk, lemon, kiwi, brokoli, bayam, probiotik seperti yoghurt yang dikonsumsi sesuai suhu kamar, dan sayuran berdaun hijau.

Selain itu dia juga banyak mengonsumsi makanan hangat, seperti sup, bubur, bahkan nasi panas hanya dengan garam.

16. Tetap bergerak
Selama sakit Tjoet tetap bergerak, meski pun rasanya sangat berat.

"Karena hidup sendiri Saya harus menyiapkan makanan sendiri, memasak ramuan dan jamu sendiri, mencuci piring, dan lain sebagainya. Tapi kondisi saya cukup lemah, jadi setelah selesai satu tugas, saya istirahat. Pokoknya tetap bergerak," ujarnya.

Tjoet juga tak malu mengakui dia tidur siang untuk mengoptimalkan istirahatnya.

Tidur yang cukup juga dirasanya membantu.

17. Berjemur

Tjoet juga mempraktikkan imbauan untuk berjemur setiap hari.

Karena Matahari cukup jarang di Belanda, maka dia memuasi berjemur sampai sinar Matahir hilang dari tempatnya berjemur.

Tjoet menyatakan dirinya belum sembuh benar, tapi sudah jauh lebih baik sehingga dia membagi pengalamannya ini.

Dia berharap kiat-kiatnya bisa membantu orang lain yang juga sedang sakit, agara menjadi lebih baik seperti dirinya.

Ikuti kami di
Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved