Wabah Virus Corona

Juru Masak Hotel di Betlehem Sempat Takut Mati Akibat Tertular Virus Corona

Apalagi berita-berita di luaran memang menyeramkan, karena selalu menyebut jumlah orang yang meninggal dunia akibat penyakit ini.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Wikipedia/Neil Ward
Nativity Church atau Gereja Kelahiran Yesus Kristus di Betlehem, Palestina. 

"Saya syok, tidak bisa menerima, tidak percaya bahwa saya tertular (Covid-19). Saya ketakutan, khawatir memikirkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak saya jika saya meninggal dunia," kata Mohammed Sarhan.

Itulah yang dirasakan juru masak Hotel Angel di Betlehem, Palestina, itu, saat dikabari petugas Kementerian Kesehatan Palestina bahwa dirinya mengidap Covid-19.

Sebagaimana dilansir harian Arab News, pria berusia 30 tahun itu sudah dua tahun bekerja di Hotel Angel. Lima saudara kandungnya, semuanya laki-laki, juga bekerja di hotel tersebut.

Kini dua saudaranya itu juga dinyatakan tertular virus corona.

Sarhan juga telah menikah, dan dikatuniai 3 anak. Maka tak mengherankan dia ketakutan dan khawatir.

"Kami semua disuruh datang ke hotel pada tanggal 4, untuk menjalani pemeriksaan setelah rombongan turis dari Yunani, yang menginap di sini, ternyata ketahuan mengidap Covid-19 begitu kembali ke negaranya," katanya yang dikutip Arab News.

Hari itu juga, semua karyawan hotel tidak boleh pulang karena langsung dikarantina oleh pihak kemenkes.

Pada tanggal 6 Sarhan bari dikabari bahwa dia mengidap penyakit yang disebabkan virus corona tersebut.

Karantina kota

Sarhan menjadi 1 dari 38 orang terinfeksi virus corona di Betlehem pada awal Maret tersebut.

Angka itulah yang kemudian menjadi dasar Pemerintah Palestina untuk mengisolasi kota Betlehem selama sebulan.

Tidak boleh ada yang masuk dan keluar Betlehem.

Bukan hanya itu, masyarakat dilarang keluar rumah, sekolah dna perguruan tinggi diliburkan.

Restoran, cafe, toko harus tutup. Pemerintah Palestina juga melarang warga Betlehem dan seluruh Palestina menggelar acara, yang mengundang kumpulan orang.

Gereja dan masjid juga ditutup. Sontak Betlehem berubah menjadi kota mati dalam hitungan jam.

Padahal Betlehem selalu ramai dan hidup, berkat statusnya sebagai lokasi kelahiran Yesus Kristus.

Ratusan ribu orang dari seluruh dunia datang ke kota kecil tersebut, untuk berziarah.

Hotel Angel berubah menjadi pusat isolasi para pasien Covid-19, dengan 29 pasien termasuk Sarhan pada saat itu.

Sebagaimana dikisahkan Sarhan, setiap hari dokter mengambil darah mereka untuk diperiksa di laboratorium.

Takut mati

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sarhan mengalami hal seperti ini. Maka tak mengherankan jika dia ketakutan.

Namun setelah beberapa hari rasa khawatirnya berkurang, sebab dia dan para pasien lainnya banyak mendapat dukungan dari seluruh Palestina.

Meskipun menjalani isolasi, namun mereka tetap bisa berhubungan dengan dunia luar melalui internet.

"Awalnya saya sangat takut, khawatir dengan istri dan anak-anak jika saya mati. Siapa yang akan mengurus mereka. Namun lama-kelamaan rasa takut itu berkurang, karena saya tahu situasi ini akan berakhir," katanya.

Wajar jika Sarhan takut dan khawatir sebab virus corona adalah hal yang sangat baru baginya.

Apalagi berita-berita di luaran memang menyeramkan, karena selalu menyebut jumlah orang yang meninggal dunia akibat penyakit ini.

Namun selama diisolasi Sarhan berlajar banyak soal virus corona. Apalagi dia tak mengalami gejala pengidap Covid-19.

"Ibu saya juga awalnya ketakutan, dan menangis setiap hari mengkhawatirkan kami. Tapi lama-lama dia kembali tenang, karena melihat kami sehat-sehat saja di tempat isolasi.

Kangen maqlouba

Yang menarik, selama dua tahun bekerja di Hotel Angel, Sarhan yang memasak untuk para tamu. Namun kali ini dia yang dilayani.

Petugas Kemenkes menyiapkan makanan mereka tiga kali sehari, sarapan, makan siang, dan makan malam.

Semua makanan itu dibuat di luar hotel, karena dapur hotel tak boleh digunakan.

Setiap hari para pasien mendapat vitamin C dan D, untuk katanya untuk memperkuat sistem imunitas mereka.

"Makanan yang diberikan tidak enak, tapi saya tidak mau mengeluh. Situasinya memang begini. Yang pasti saya kangen masak dan makan Maqlouba (penganan khas Betlehem)," katanya.

Ada satu lagi yang dirindukannya, yakni memeluk dan menciumi anak-anaknya.

Namun Sarhan tidak yakin apakah dia boleh melakukan hal itu, setelah dibebaskan dari isolasi.

Betlehem Bagaikan Kota Hantu Tanpa Pariwisata

Ziarah Kristiani ke Holy Land Tutup Sementara Akibat Wabah Virus Corona

Lebih dari 50 Perjalanan Kereta Api dari Jakarta Dibatalkan

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved