Wisata Bogor

Yuk Berkunjung ke Museum Perjoangan Bogor

Lokasi Museum Perjoangan Bogor dekat dengan Stasiun Bogor, dan angkutan umum lewat di depan museum.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Jalinka Putri
Jukikanju, senapan mesin tentara Jepang yang berhail direbut seorang pejuang dari Badan Keamanan Rakyat (BKR). 

Pusat perbelanjaan tradisional dan modern ada di sekitar museum. Maka dari itu, meskipun sepi
tak sulit untuk mencarinya.

Ironis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Museum Perjoangan Bogor. Terletak
di kawasan strategis dan ramai, namun tempat itu sepi pengunjung.

Koleksi senjata tempo dulu

Ben kemudian mengajak saya masuk melihat museum tersebut, mulai dari ruangan lantai satu.

Tak jauh dari meja tiket terdapat senapan yang mendongak lurus ke arah pintu masuk.

Meskipun sudah berkarat, namun tak membuatnya cerita di baliknya ikutan luntur.

Pada secarik kertas yang menggantung di dekatnya tertulis bahwa senapan itu bernama
Jukikanju.

Dulunya pernah digunakan oleh tentara Jepang, lalu berpindah tangan ke salah satu anggota
Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Dia merampas senjata ini dari serdadu Jepang dalam perang perjuangan mendapatkan kemerdekaan.

Bukan cuma Jukikanju yang menarik dari ruangan ini, sebab ada banyak senjata api berbagai
ukuran yang berasal dari para pejuang di perang itu.

Ruangan ini memiliki bentuk memanjang, dengan lantai dilapisi keramik putih.

Tak ada jendela untuk menyinari ruangan. Maka pencahayaan mengandalkan dari lampu ruangan
yang masih berfungsi dengan baik.

Lalu di tengah ruangan terdapat tiang penyangga yang memiliki corak relief emas seperti di
pintu masuk.

Pada bagian ini ruangan terbagi menjadi dua sisi ruang pamer. Pada sisi kanan dan kirinya,
terdapat etalase kayu berkaca, yang menjadi tempat memajang semua senjata.

Ben menceritakan bahwa semua senjata itu sangatlah berarti bagi kota Bogor. Semuanya
peninggalan para pejuang.

"Semua senjata ini merupakan sisa sejarah dari para pejuang kala itu. Mereka tak hanya dari
kota Bogor, mereka bersatu dari berbagai daerah kabupaten dan desa sekitar Bogor," kata pria
berusia 71 tahun itu.

Dia juga menujukkan etalase yang menyimpan senjata bernama bambu runcing. Alat itu merupakan
senjata asli yang diciptakan oleh masyarakat.

"Ini adalah senjata asli rakyat kita selain golok atau pedang. Dengan menggunakan senjata
tradisional ini mereka melawan para penjajah dan merampas senjata canggih mereka. Maka dari
itu mereka bisa punya barang-barang peninggalan senjata senapan dan pistol," ujar pria
berkulit sawo matang tersebut.

Lalu, ditengah ruangan terdapat etalase yang memajang uang-uang.

Lantai satu Museum Perjoangan yang memamerkan berbagai senjata peninggalan para pejuang.
Lantai satu Museum Perjoangan yang memamerkan berbagai senjata peninggalan para pejuang. (Warta Kota/Jalinka Putri)

Baju dengan noda darah

Setelah selesai di lantai satu kami menuju ke lantai dua dengan menaiki tangga yang terbuat
dari kayu.

Berbeda dengan lantai satu, di lantai ini terdapat beberapa jendela sehingga ruangan ini
lebih mengandalkan sinar matahari sebagai penerangan.

Ruangan yang di dominasi oleh warna putih ini diisi beberapa etalase kayu berwarna cokelat.

Kemudian di dindingnya dihiasi oleh lukisan para pahlawan, terutama yang berjasa bagi Bogor.

Dalam etalase-etalase warna cokelat terdapat berbagai koleksi sampai diorama pertempuran di
Bogor dan sekitarnya.

Ada pula berkas-berkas penting rencana pertempuran, senjata-senjata, dan juga perlengkapan
para pejuang kala itu. Dan yang paling berkesan adalah koleksi baju-baju lusuh

"Itu bajunya pernah dipakai sama anggota palang merah pada saat bertempur. Warnanya kaya gitu
karena masih ada noda darahnya," kata Ben.

Di ujung ruangan ini terdapat panggung teater mini yang digunakan untuk memutarkan film
tentang kemerdekaan bila ada rombongan pengunjung.

Baju yang digunakan oleh PMR saat perang kemerdekaan, hingga kini masih terdapat noda darah.
Baju yang digunakan oleh PMR saat perang kemerdekaan, hingga kini masih terdapat noda darah. (Warta Kota/Jalinka Putri)

Dikelola yayasan

Meskipun di bagian depan Museum Perjoangan Bogor ada tulisan "10 November 1957", namun usia
bangunan ini sebenarnya lebih tua.

Ben mengatakan tanggal itu adalah hari museum resmi dibuka untuk umum.

Sebelum menjadi museum, gedunnya sempat beberapa kali berganti fungsi.
Pada tahun 1879, orang Belanda membangun gedung itu sebagai gudang perusahaan export
komoditas pertanian ke Eropa.

"Dulu pernah jadi tempat ormas para pejuang, lalu jadi gudang lagi waktu Jepang masuk, jadi
gudang senjata. Kemudian jadi DPR keresidenan Bogor. Pernah juga jadi kantor radio. Lalu
pernah jadi Sekolah Rakyat. Setelah itu baru jadi museum," katanya.

Dari awal berdiri hingga saat ini, museum ini dikelola oleh para pejuang yang tergabung
dalam Yayasan Museum Perjuangan.

Saat ini untuk melakukan renovasi atau pembaharuan cukup sulit, karena hanya beberapa pihak
yang peduli.

Kendati demikian, Ben selalu merawat museum itu setiap hari.

Sempat diwacanakan bahwa museum ini akan diambil alih oleh Pemerintah Kota Bogor, namun
sampai sekarang belum juga ada kelanjutannya.

Benyamin pengurus Museum Perjoangan Bogor.
Benyamin pengurus Museum Perjoangan Bogor. (Warta Kota/Jalinka Putri)

Buka setiap hari
Meskipun sepi, Ben selalu menjalankan tugasnya membuka museum ini. Setiap hari pukul 07.00
dia datang ke bangunan lawas itu.

Kemudian dia menyapu dan mengepel seluruh bagian museum, memeriksa semua koleksinya, dan pada
pukul 08.00 dia akan membuka pintu museum untuk umum.

Baginya, museum ini sangat penting untuk mengembangkan wawasan masyarakat.

"Buka setiap hari karena sejarah itu penting bagi para generasi saat ini. Saya senang sekali
kalau ada yang datang dan kritis bertanya-tanya. Tidak pernah merasa direpotkan," kata pria
asli Bogor itu.

Kemudian beberapa pelajar SMA datang, dan kedatangan mereka disambut oleh Ben seperti dia
menyambut saya. Bedanya harga tiket masuk mereka Rp 5.000.

Saya berkenalan dengan Ivan Ewaldo, Jason Laurici, dan Michael Liman. Ketiganya adalah
pelajar SMA Budi Mulia Bogor.

Mereka mengatakan bahwa mereka baru pertama kali ke museum tersebut, meskipun bersekolah di
Bogor.

"Ini pertama kali banget sih ke sini, karena ada tugas sekolah. Di sini sangat bersejarah
banget ya setiap koleksinya, sayang kalau tidak dapat perhatian yang baik," ujar Ivan Ewaldo
mewakili dua temannya.

Museum Perjuangan Bogor menjadi menarik karena memiliki beragam kisah dari para pejuang
kemerdekaan.

Meskipun museumnya sederhana dan terbilang tertinggal jauh dari museum-museum modern saat
ini, tapi itu tak melunturkan cerita dari koleksinya.

Berkunjung ke museum ini secara beramai-ramai juga sangatlah nyaman sebab lahan parkirnya
luas dan gratis.

Museum Perjoangan Bogor

Jalan Merdeka No.56, Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor 16124

Jam operasional museum :

Buka setiap hari mulai dari pukul 08.00 - 16.00 WIB.

Tiket masuk :

Dewasa/ Umum Rp 10.000

Pelajar Rp 5.000

Cara mencapainya :

-Dari stasiun Bogor dapat naik angkot 10 turun di Pusat Grosir Bogor (PGB). Jalan kaki
memasuki mal tersebut menuju museum.

- Bila dari Baranang siang, sambung dengan menaiki angkutan 02 atau 03. Turun di jembatan
merah. Jalan kaki sedikit ke PGB yang tak jauh dari museum.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved