Menggali 500 Tahun Konservasi di Kebun Raya Bogor

Terdapat beberapa peninggalan yang memunculkan dugaan Kebun Raya Bogor sudah mulai ada sejak zaman Kerajaan Pakuan.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Janlika Putri
Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, bersama Ninok Leksono yang merupakan Rektor Universitas Media Nasional dan wartawan senior Harian Kompas, berfoto bersama seusai acara Talkshow bertajuk '500 Tahun Konservasi Tumbuhan: Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor'. 

Sebagai salah satu ikon kota Bogor adalahKebun Raya Bogor, yang populer sebagai destinasi wisata kota hujan tersebut.

Terdapat beragam genus, familia, dan spesiesmen tumbuhan di sana. Di usianya yang tak lagi muda, asal muasal dari tempat ini masih terus dipelajari oleh para pengamat dan ahli.

Karena memiliki nilai sejarah yang begitu besar, maka Kebun Raya Bogor sedang diusulkan untuk masuk sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) UNESCO.

Hal inilah yang membuat LIPI bekerja sama dengan Kompas Gramedia mengadakan Talkshow pada Jumat 14 Februari 2020. Acara ini bertajuk "500 Tahun Konservasi Tumbuhan: Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor".

Berlangsung di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Barat, ada sejumlah narasumber yang hadir mengisi talk show ini, yakni Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, Ninok Leksono yang merupakan Rektor Universitas Media Nasional dan wartawan senior Harian Kompas.

Ada pula Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI R Hendrian, M Fathi Royyani selaku Peneliti Etnobotani Pusat Penelitian Biologi LIPI, serta Eko Baroto Waluyo seorang Peneliti Ekologi Manusia.

Warisan Dunia

Kebun Raya Bogor atau yang biasa di sebut KRB berada di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Melalui acara ini, LIPI yang sudah di dukung oleh Bupati Bogor ingin mengajak semua orang untuk turut mendukung KBR menjadi World Heritage Site atau Situs Warisan Dunia.

Dalam acara itu, Hendrian selaku Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI mengatakan saat ini KRB sedang dalam proses pengajuan sebagai Situs Warisan Dunia. Untuk itu, kini telah banyak pihak yang mendukung upaya ini.

Hendrian menambahkan, saat ini dokumen-dokumen dan persyaratan untuk pengusulan itu sedang dilengkapi.

Dia menargetkan pada September 2020 semua dokumen sudah lengkap terkumpul untuk diberikan kepada UNESCO.

Salah satu upaya yang tengah dilakukan ialah mendapatkan status cagar budaya nasional terlebih dahulu.

"Tentunya salah satu cara penting utuk memperoleh status itu adalah melibatkan masyarakat, yakni dengan menjaga dan merawat KRB. Kami optmis bila Kebun Raya akan jadi Warisan Dunia," kata Bupati Bogor dua periode itu.

Kisah tanpa akhir

Pembicaraan tentang Kebun Raya, Kebun Raya Bogor makan selalu menarik dan tanpa akhir. Peneliti etnobotani Pusat Penelitian Biologi LIPI, M Fathi Royyani menuturkan, terdapat beberapa peninggalan yang memunculkan dugaan Kebun Raya Bogor sudah mulai ada sejak zaman Kerajaan Pakuan.

Salah satu bukti yang sedang dikaji adalah yang tertulis di Prasasti Batutulis. Pada inskripsi dari masa kerajaan Nusantara itu tertulis kata "Samida" yang masih misterius hingga saat ini.

Jika "Samida" yang dimaksud adalah hutan buatan yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor, maka usia KBR sangatlah tuam lebih tua dari yang tertulis di sejarah pendirian pada 18 Mei 1817.

"Saat ini Kebun Raya Padua di Italia tercatat sebagai Kebun Raya tertua di dunia dengan usia 475 tahun. Bila KRB sudah ada sejak zaman kerajaan, maka predikat kebun raya tertua di dunia akan menjadi milik KBR," tandas Fathi. (M25)

Menjelajah Oasisnya Kota Hujan, Kebun Raya Bogor

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved