Pecinan di Jakarta

Wisata Jalan Kaki Pecinan Jatinegara 3: Masuk Lubang Cacing Menuju Klenteng Tertua Kedua di Jakarta

Semerbak aroma dupa mulai tercium mengiringi langkah kami. Dari segi fisik, tak tampak bahwa bangunan bangunan itu sudah tua.

Warta Kota/Angga Baghya N
Seorang pengurus sedang mengecat lagi ambang pintu Vihara Amurva Bhumi di Jatinegara, menjelang perayaan Imlek. 

Di bagian depan terdapat sembilan altar bagi para umat yang akan sembahyang, semuanya di beri nomor urutan.

Tuan rumah atau dewa di vihara ini adalah Pak Kung Lao Ye, yang sangat dipercaya oleh para pedagang dan petani. Sebutan lainnya adalah Dewa Tanah.

“Dia itu dewa yang sangat membumi. Bisa dibilang Dewa Tanah. Dulu mayoritas yang datang kan para tukang dagang yang menjaul hasil bumi. Mereka ingin sukses dan usahanya berhasil. Maka dari itu yang dipilih dewa ini karena punya kedekatan emosi,” ujar Yang Cing Lung.

Simbol lain yang menunjukkan rumah ibadah ini dibangun oleh para petani adalah ornamen dua naga yang sedang bermain bola api.

Menurut laman budaya-tionghoa.net, dua naga sedang bermain api adalah simbol kesuburan, karena dipercaya gerakan naga-naga itu akan menimbulkan hujan.

Hujan adalah berkah bagi para petani, karena dibutuhkan untuk mengairi sawah dan ladangnya.

Masih ada bagian ruang belakang, disini terdapat patung Siddharta Gautama dan altar dengan Dewi Welas Asih atau Kwan Im.

Arca Buddha yang berada di bagian vihara.
Arca Buddha yang berada di bagian vihara. (Warta Kota/Janlika Putri)

Membaur

Meski bangsa ini sering digoyahkan oleh isu-isu rasisme, namun kebaradaan Vihara ini tak pernah menimbulkan gejolak dengan warga sekitarnya.

Bahkan warga pasar, yang kini mayoritas bukan beretnis Tionghoa lagi, turut saling bantu dan menjaga. Solidaritas antarumat dan juga etnis sangat dijunjung tinggi, maka tak heran bila keberadaan Vihara ini selalu hidup.

Minyak sebagai pengganti lilin besar di Vihara Amurva Bhumi.
Minyak sebagai pengganti lilin besar di Vihara Amurva Bhumi. (Warta Kota/Janlika Putri)

Pada acara perayaaan besar misalnya, warga di sekitar pasar yang berasal dari etnis dan kepecayaan lain biasanya akan ikut menyemarakan acara.

“Di luar acara ritual sembayang keagamaan biasanya warga sini pasti ikut merayakan. Kaya acara Cap Gomeh, itu kan ramai sekali. Semua orang dari mana saja nonton ke sini. Imlek juga. setiap tahun ada barongsai. Tahun ini juga. pasar akan ramai di hari itu,” tambah Yang Cing Lung.

Setelah perayaan Imlek, Vihara Amurva Bhumi akan menjadi pusat acara Cap Gomeh, yang jatuh pada tanggal 8 Februari nanti.

Klenteng lain di wilayah Jatinegara, Bio Shia Djin Kong akan datang ke sini sambil membawa Kongco-nya, atau dewa utamanya.

Vihara Amurva Bhumi

Jalan Pasar Lama Utara No 35 Jatinegara, Jakarta Timur.

Untuk menuju kesana :

- Dari terminal Kampung Melayu bisa melalui Jalan Jatinegara Barat , cari Pasar Jatinegara.

- Dari arah stasiun Jatinegara, jalan menuju arah Pasar Lama Utara, jika sudah berada di sekitaran pasar bisa langsung bertanya pada warga sekitar.

Wisata Jalan Kaki Pecinan Jatinegara 2: Bakmie Jackie Langganan Pengunjung Pasar Jatinegara

Wisata Jalan Kaki Pecinan Jatinegara 1: Klenteng di Gang Sempit Jatinegara

Ikuti kami di
Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved