Menyambut Imlek

Wisata Jalan Kaki Pecinan Jatinegara 2: Bakmie Jackie Langganan Pengunjung Pasar Jatinegara

Namun begitu pesanan datang, indera saya langsung fokus ke mangkuk yang ada di hadapan. Ketika itu saya memesan bihun ayam.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Janlika Putri
Bakmie Jackie, kedai mi ayam ala masakan Cina di Pasar Jatinegara, yang sudah berusia 26 tahun. 

Siapa orang Indonesia yang belum pernah makan mi? Selain bayi tentunya tidak ada, sebab mi sudah menjadi bagian dari kuliner Indonesia, setidaknya dalam 50 tahun terakhir.

Apalagi sejak produk mi instan semakin murah harganya, semakin praktis, cara pembuatannya, serta semakin beragam rasanya, maka penganan jenis karbohidrat ini semakin masuk di hati orang Indonesia.

Mi ayam Bakmie Jackie lengkap dengan suikiau
Mi ayam Bakmie Jackie lengkap dengan suikiau (Warta Kota/Janlika Putri)

Siapapun tahu, dan rasanya tidak ada yang tidak tahu, mi ini asalnya dari Tiongkok. Masuk ke Indonesia dibawa oleh imigran dari Cina yang datang ke Nusantara sejak ribuan tahun lalu.

Maka tak mengherankan jika banyak warga Indonesia beretnis Tionghoa membuka restoran atau kedai mi ayam dengan segala variasinya.

Mi ayam kuliner Tionghoa ini memiliki aroma dan rasa yang khas, berkat penggunaan minyak wijen dalam resepnya.

Untuk membedakan masakan Cina atau bukan, biasanya pemilik restoran masakan Cina akan menyertakan kata "bakmie" dalam nama restorannya.

Maka, saat saat saya melihat spanduk besar dengan tulisan "Bakmie Jackie" di Pasar Jatinegara, saya tahu mi ayam yang disajikan di restoran itu bergaya masakan Cina.

Menu andalan Bakmie Jackie
Menu andalan Bakmie Jackie (Warta Kota/Janlika Putri)

Saat itu saya berada di Pasar Jatinegara bersama tim Warta Kota Travel. Kami sedang melakukan wisata jalan kaki untuk menelusuri kawasan Pecinan Jatinegara.

Karena itu, ketika membaca spanduk Bakmie Jackie, rasanya perjalanan kami semakin lengkap dengan menyantap masakan Cina.

Pasar Jatinegara sendiri, dulu adalah pusat Pecinan di Jatinegara. Hal ini bisa dilihat dari bentuk atap sejumlah toko di pasar lama.

Meski tempatnya sederhana, berada di emperan toko berhimpitan dengan pedagang lainnya, kedai Bakmie Jackie ini selalu ramai oleh pembeli.

Menurut Irwan Zainal, pemilik Bakmie Jackie, setiap harinya lebih dari 100 orang yang datang makan di kedainya. Belum lagi yang pesan untuk dibungkus.

Makan di tengah pasar memang memiliki sensasi tersendiri, dengan suasana riuh-rendah khas pasar. Aktivitas jual beli, kendaraan yang lewat, suhu yang panas, berbagai aroma bersliweran, serta udara yang sedikit pengap. Itulah yang saya rasakan saat menunggu pesanan.

Namun begitu pesanan datang, indera saya langsung fokus ke mangkuk yang ada di hadapan. Ketika itu saya memesan bihun ayam.

Pelayanannya boleh diacungi jempol, karena para pegawai kedai langsung menyambut pengunjung, mencarikan kursi, dan mencatat pesanan.

Pesanan datang kurang lebih lima menit kemudian. Namun jika sedang ramai mungkin akan sedikit lebih lama.

Rasa meriah

Mekipun tempatnya hanya memanfaatkan emperan toko seragam sekolah, rasa Bakmie Jackie tak kalah dengan menu restoran besar.

Jackie, nama panggilan Irwan Zainal, membuka kedai ini tahun 1994. Memang tidak setua sejarah masyarakat Tionghoa di Jatinegara, tapi 26 tahun sudah menunjukkan bahwa Bakmie Jackie sudah teruji.

Jackie mengatakan dia selalu konsisten menyajikan bahan terbaik bagi pembelinya, karena ingin memberikan kesan tak terlupakan di lidah pembeli lewat racikan bakmienya.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved