Menyambut Imlek

Wisata Jalan Kaki Pecinan Jatinegara 1: Klenteng di Gang Sempit Jatinegara

Di mulut gang itu terdapat sebuah papan nama berwarna putih dengan tulisan merah, "Vihara Dharma Kumala Bio Shia Djin Kong".

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Jalinka Putri
Klenten atau Bio Shia Djin Kong, yang terletak di gang sempit di tengah permukiman di Jatinegara, adalah salah satu peninggalan Pecinan Jatinegara. 

Menjelang datangnya Tahun Baru Cina, atau biasa disebut Imlek, kawasan Pecinan di sebuah kota
memang selalu menarik untuk dikunjungi.

Pasalnya, kawasan itu sedang semarak dengan berbagai hiasan dalam menyambut tahun yang baru
menurut penanggalan Cina.

Pekerja sedang mengganti lampu lampion di Vihara Hian Thian Siang Tee, di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, Senin (13/1/2020). Kegiatan rutin ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan menyambut perayaan Tahun Baru Imlek. Aksi bersih bersih ini dilakukan agar umat yang databg bisa lebih hikmat dalam beribadah.
Pekerja sedang mengganti lampu lampion di Vihara Hian Thian Siang Tee, di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, Senin (13/1/2020). Kegiatan rutin ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan menyambut perayaan Tahun Baru Imlek. Aksi bersih bersih ini dilakukan agar umat yang databg bisa lebih hikmat dalam beribadah. (Warta Kota/Nur Ichsan)

Menurut cerita sejarah, sebenarnya ada beberapa kawasan Pecinan di Jakarta, mengingat sudah
bangsa Tiongkok sudah datang ke wilayah Nusantara sejak ribuan tahun lalu.

Sebut saja kawaan Glodok, Jatinegara, Tanahabang, Setiabudi, Kebayoran Lama, Senen adalah
kawasan Pecinan di Jakarta pada masa lalu.

Mereka hidup berbaur dengan suku bangsa lainnya yang datang ke Jakarta, sehingga pada saat ini
sudah tidak terlalu kentara lagi perbedaan asal-muasal mereka.

Karena itulah, saat ini kebanyakan masyarkat Jakarta tahunya hanya Glodok kawasan Pecinan di
kota ini.

Jatinegara

Membaca sejarah Jakarta itu, saya dan tim Warta Kota Travel tertarik melihat kawasan Pecinan
lainnya di Jakarta. Pilihan kami adalah Jatinegara.

Zaman dahulu, tepatnya mulai tahun 1744, Jatinegara adalah kota satelitnya Batavia, di bagian
tenggara Batavia.

Lama kelamaan penduduk kota satelit ini bertambah, termasuk kelompok pedagang beretnis
Tionghoa. Mereka membangun permukiman lengkap dengan tempat ibadah.

Maka kami ingin melihat peninggalan masyarakat Tionghoa di Jatinegara dengan cara wisata jalan
kaki. Ternyata itu bukan hal yang mudah.

Berbeda dengan kawasan Glodok,  di Jatinegara jumlah anggota komunitas Tionghoa tidak sebanyak di Glodok, dan mereka lebih membaur dengan masyarakat di luar kelompok mereka.

Ketika itu di Jatinegara juga dihuni masyarakat petani lokal yang sekarang dianggap sebagai
suku Betawi. Ada pula kelompok masyarakat keturunan Timur Tengah, dan pendatang dari wilayah
lain di Nusantara.

Karena itulah peninggalan masyarakat Tioghoa di Jatinegara tak sebanyak Glodok. meski begitu, masih ada jejak-jejaknya yang terlihat. 

Suasana Klenteng Shia Djin Kong di Gang Padang atau Jalan Bekasi Timur Gang 1, Jatinegara, Jakarta Timur.
Suasana Klenteng Shia Djin Kong di Gang Padang atau Jalan Bekasi Timur Gang 1, Jatinegara, Jakarta Timur. (Warta Kota/Janlika Putri)

Klenteng di Gang Sempit 

Salah satunya adalah Klenteng atau Bio Shia Djin Kong, yang saat ini menjadi satu dengan Vihara
Dharma Kumala.

Saya dan tim Warta Kota Travel memulai wisata jalan kaki ini dari stasiun Jatinegara, karena
stasiun yang berdiri sejak tahun 1910 itu sangat dekat dengan klenteng ini.

Kami menyeberangi Jalan Bekasi Barat di depan stasiun, dan masuk ke gang kecil di seberang
stasiun.

Jalan yang kalau di peta Google bernama Jalan Bekasi Timur Gang 1 ini sangat kecil, mungkin
hanya muat 1 mobil kecil.

Kami sempat ragu-ragu ketika akan memasuki gang tersebut. Pasalnya kami membayangkan klenteng
ini cukup besar, seperti klenteng-klenteng di wilayah Glodok, sehingga rasanya tak mungkin
berada di jalan sekecil itu.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved