Kedai kopi di Jakarta

Phoenam, Kedai Untuk Penikmat Kopi Toraja dan Ngobrol di Jakarta

Pengunjung Phoenam bukan anak-anak muda pemburu spot instagramable, tapi kaum penikmat kopi dan suasananya.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Janlika Putri
Kedai kopi Phoenam menempati ruko sedergana di dekat Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. 

"Baru pertama ke sini ya? Kita agak aneh waktu tiba-tiba kamu masuk. Soalnya di sini sehari-harinya
jarang pengujung perempuan. Apalagi muda. Gakpapa. Mau di sini apa di atas? Tapi di atas sepi belum ada orang. Di bawah aja, oke," kata pramusaji bernama Lina itu, sambil menyiapkan kursi dan meja untuk saya.

Akhirnya saya memesan es kopi susu Phoenam atas saran Lina, sebab katanya minuman tersebut favorit pengunjung.

"Gus, es kopi susu ya satu di meja bawah," kata Lina berteriak kepada barista.

Kopi susu, menu favorit pengunjung kedai kopi Phoenam.
Kopi susu, menu favorit pengunjung kedai kopi Phoenam. (Warta Kota/Janlika Putri)

Selagi menunggu pesanan saya menyempatkan diri naik ke lantai dua. Di sana ruangannya lebih sunyi. Ada beberapa kursi dan meja, dan ada pula beberapa figura foto orang penting dan para tokoh yang pernah datang berkunjung.

Dari situ saya juga dapat melihat pemandangan dari jendela kaca tembus pandang.

Tempat nongkrong kaum bapak.

Ukuran kedai ini bisa dikatakan tak terlalu luas. Ruangan berbentuk persegi panjang, memanjang ke
belakang, hanya bisa diisi sekitar 10 meja.

Di lantai atas juga serupa, tai bedanya pengunjung tak bisa merokok di sana.

Pada dekorasi ruangan juga tak ada sesuatu yang mencolok, seperti dekorasi pada kafe-kafe kekinian.
Simpel namun matang. Tampaknya itulah yang menjadi daya tarik kedai ini.

Seperti para tamu yang datang, rata-rata adalah bapak-bapak yang memang lebih suka cara ngopi yang tak di  macam-macami.

Ngopi ya kopi bagi mereka, hanya diberi tambahan susu atau telur sebagai pelengkap. Tak ada bahan
macam-macam lainnya lagi.

Jadi tak akan tepat bila mencari kopi keju di sini, atau kopi dengan garam laut (sea salt).

Semua yang tersaji di sini namanya begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia, layaknya menu di warung kopi (warkop).

Namun tentu saja ada racikannya yang berbeda sehingga harganya berani lebih tinggi dari harga warkop biasa.

Sedikit disayangkan, tak ada harga yang tercantum di buku menu, sehingga saya bolak-balik bertanya
kepada pramusaji atau barista.

Di sana saya bertemu dengan Ahmad, salah satu pelanggan setia Phoenam. Setiap hari dia selalu mampir ke tempat ini untuk ngopi.

"Paling suka dengan kopi susunya yang hangat. Sudah coba ke berbagai kafe tetapi tak seperti di sini.
Rasanya beda. Apalagi di sini kekeluargaannya sangat terasa, " ungkap pria berdarah Makassar, yang
tinggal di Tebet Jakarta Selatan tersebut.

Kedai kopi Phoenam di Gondangdia, Jakarta Pusat, tempat favorit nongkrong para pria yang hanya ingin ngopi dan ngobrol.
Kedai kopi Phoenam di Gondangdia, Jakarta Pusat, tempat favorit nongkrong para pria yang hanya ingin ngopi dan ngobrol. (Warta Kota/Janlika Putri)

Ahmad benar, jika diperhatikan, semua pengunjung sangat hangat kepada satu sama lain. Mayoritas
pengunjung adlah pria berusia 40 tahun ke atas.

Para bapak-bapak di sana menikmati kopi, memakan kudapan, dan ngobrol asik dengan menggunakan bahasa Makassar.

Setiap harinya ruangan di lantai bawah itu dipenuhi asap rokok para pengunjung.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved