Alasan Untuk Berlibur ke Eropa di Tahun Kabisat

Meski pun tahun Kabisat adalah peristiwa astronomi yang alami, namun masyarakat Eropa kuno mengaitkannya dengan takhayul sehingga muncul tradisi.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Instagram/tourismireland
Pemandangan dalam perjalanan antara kota Kerry dan Cork di Irlandia 

Tahun 2020 adalah tahun Kabisat, di mana jumlah hari dalam tahun tersebut sebanyak 366 hari.

Tambahan satu hari itu terletak di bulan Februari. Biasanya bulan tersebut hanya berjumlah 28 hari. Namun khusus di tahun Kabisat, Februari memiliki 29 hari.

Tahun 2020 merupakan tahun Kabisat sehingga Februari memiliki 29 hari.
Tahun 2020 merupakan tahun Kabisat sehingga Februari memiliki 29 hari. (Warta Kota/AC Pingkan Ulaan)

Tambahan hari itu berkaitan dengan orbit bumi yang lebih panjang setiap empat tahun sekali. Karena itu tahun Kabisat datang 4 tahun sekali.

Meski pun tahun Kabisat sejatinya terjadi karena peristiwa astronomi yang alami, namun masyarakat Eropa kuno mengaitkannya dengan takhayul sehingga muncul tradisi.

Tradisi itu ada yang aneh, ada yang unik, tapi ada pula yang indah.

Untungnya, saat ini masyarakat di benua tersebut sudah tak mempercayai takhayul itu lagi, tapi beberapa masih mempertahankan tradisi yang berkaitan dengan Kabisat, hanya untuk sekadar tradisi yang unik.

Apalagi jika tradisi unik ini kemudian bisa membawa manfaat komersil, seperti meningkatkan jumlah wisatawan.

Inilah tradisi unik tersebut, sebagaimana dirangkum laman Lonely Planet.

Irlandia dan Eropa Utara

Pada akhir Februari di tahun Kabisat banyak pelancong datang ke Irlandia. Hal ini berkaitan dengan
tradisi yang sudah berusia 15 abad.

Menurut tradisi itu, setiap tanggal 29 Februari perempuan boleh melamar kekasihnya.

Miss Irlandia, Sacha Livingstone, mnggunakan tradisi kuno bangsa Irlandia di tahun Kabisat, untuk melamar James McDowell.
Miss Irlandia, Sacha Livingstone, mnggunakan tradisi kuno bangsa Irlandia di tahun Kabisat, untuk melamar James McDowell. (belfasttelegraph.co.uk)

Kalau didengar pada zaman sekarang, tradisi itu memang menggelikan. Namun 15 abad yang lalu, tradisi itu sangat melegakan bagi para perempuan yang sudah dipacarin lama-lama tapi tak kunjung diajak menikah oleh kekasihnya.

Maka, satu hari yang muncul setiap 4 tahun sekali itu sangat dinantikan oleh para perempuan Irlandia dan bangsa Eropa lainnya.

Konon tradisi ini muncul dari keberanian St Brigid of Kildare melamar St Patrick pada tanggal 29 Februari di abad ke-5.

Sayangnya, meski perempuan diizinkan melamar pria di tanggal 29 Februari, namun para pria juga diberi kebebasan menerima atau menolak lamaran itu.

Menurut Lonely Planet, pada tahun 1288 Ratu Margaret dari Skotlandia mengeluarkan regulasi yang berkait dengan tradisi melamar tersebut.

Konon bunyinya, pria boleh menolak lamaran tersebut, tapi mereka harus membayar penolakan itu kepada pelamarnya.

Besarnya nilai penolakan adalah minimal 1 poundsterling dan maksimal seharga satu gaun sutra.

Sementara di Denmark, nilai penolakan adalah 12 pasang sarung tangan, sehingga perempuan yang ditolak itu bisa menutupi jari-jarinya yang tidak mengenakan cincin.

Di Finlandia, pria yang menolak tersebut harus memberikan kain tekstil yang cukup untuk dijadikan satu gaun.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved