Wisata di Jakarta

Belajar Sejarah Pitung di Rumah Si Pitung

Salah satu tempat yang dianggap sebagai lokasi persembunyian adalah sebuah rumah yang berada di daerah Marunda, Jakarta Utara.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Janlika Putri
Rumah Si Pitung berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin 

Setiap daerah pasti memiliki tokoh pahlawan, yang dipuja berkat aksi heroiknya, atau sumbangsihnya untuk masyarakat.

Jakarta memiliki beberapa tokoh pahlawan, salah satunya adalah Pitung.

Tokoh Betawi ini melawan penjajah kolonial Belanda di tahun 1900-an.

Satu set kursi antik di beranda Rumah Si Pitung
Satu set kursi antik di beranda Rumah Si Pitung (Warta Kota/Janlika Putri)

Cara yang digunakannya adalah merampas dan mencuri harta para saudagar kaya, yang dianggapnya bersekutu dengan Belanda.

Hasil rampasannya kemudian dibagikan kepada masyarakat yang kekurangan kala itu.

Karena aksinya itu Pitung menjadi buruan tentara Belanda, karena perbuatannya dianggap mengancam keberadaan pemerintah kolonial.

Alhasil Pitung sering berpindah tempat untuk menghindari penangkapan tentara Belanda yang ingin membunuhnya.

Rumah Si Pitung

Salah satu tempat yang dianggap sebagai lokasi persembunyian adalah sebuah rumah yang berada di daerah Marunda, Jakarta Utara.

Situs Marunda Rumah Si Pitung
Situs Marunda Rumah Si Pitung (Warta Kota/Janlika Putri)

Maka rumah tersebut dianggap sangat penting bagi sejarah bangsa Indonesia, khususnya bagi masyarakat Betawi dan kota Jakarta, sehingga dilestarikan dengan nama Situs Marunda Rumah Si Pitung.

Situs ini menjadi bagian dari Museum Kebaharian sejak tahun 2016, dan terbuka untuk umum.

Cara mencapainya

Meskipun letaknya jauh dari pusat kota Jakarta, namun Rumah Si Pitung bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan umum.

Sebuah rute bus Transjakarta berhenti di halte di depan rumah susun Marunda, yang tak jauh dari Rumah Si Pitung.

Dari situ saya tinggal berjalan kaki untuk menuju museum. Tak memakan waktu banyak, hanya sekitar tujuh menit dengan berjalan santai sampai di depan pagar dari museum.

Saat saya berkunjung ke sana, Matahari bersinar begitu terik. Namun sepanjang perjalanan mata saya disuguhi pemandangan pantai yang sangat menyegarkan.

Di daerah ini cukup jarang kendaraan yang berlalu-lalang, sehingga tak masalah jika berjalan kaki.
Hanya saja, petunjuk jalan menuju museum ini minim, sehingga saya sempat kebingungan di beberapa persimpangan jalan. Untungnya warga setempat sangat membantu menunjukkan rute jalan ke sana.
Seakin saya mendekati tujuan, semakin terdengar suara musik gambang kromong yang khas Betawi. Alunan musik itu untuk menyambut sekaligus menghibur pengunjung.

Untuk masuk, saya harus membeli tiket, di loket yang terletak di gerbang pintu masuk.

Pihak museum memperbolehkan pengunjung membawa kamera jenis apapun, dan foto-foto di sana.

Tapi untuk menghargai pihak museum, harus tetap izin ya bila akan mengambil gambar yang berhubungan dengan advetorial.

Sumber: Warta Kota

Halaman selanjutnya

Rumah panggung

...

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved