Wisata di Jakarta

Yuk Isi Liburan Berkunjung ke Museum Gedung Joang 45

Nama Museum Gedung Joang 45 sudah tak asing lagi mendengar nama museum ini, karena tempat ini paling sering disebut di buku pelajaran sejarah.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Janlika Putri
Museum Gedong Joang 45 di Jalan Menteng Raya No 31, Jakarta Pusat. 

Mengisi liburan akhir tahun tak ada salahnya diselipi dengan kegiatan yang menambah pengetahuan.

Salah satunya berkunjung ke Museum Gedung Joang 45 di Jalan Menteng Raya No 31, Jakarta Pusat.

Pasti kalian sudah tak asing lagi mendengar nama museum ini, karena tempat ini paling sering disebut di buku pelajaran sejarah, di bab yang menceritakan perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Patung torso Bung Karno & Bung Hatta di mengapit pintu masuk Museum Gedung Joang 45.
Patung torso Bung Karno & Bung Hatta di mengapit pintu masuk Museum Gedung Joang 45. (Warta Kota/Janlika Putri)

Karena tempat ini begitu penting, maka pada tahun 1972 gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah dan dilindungin oleh undang-undang.

Lalu pada 19 Agustus 1974, Gedung Joang 45 diresmikan menjadi museum oleh Presiden Soeharto, yang merupakan presiden kedua Republik Indonesia.

Sejak saat itu, tempat ini bukan saja menjadi tempat saksi sejarah, melainkan juga sebagai tempat
menyimpan koleksi benda-benda peninggalan para pejuang kemerdekaan RI.

Saya pun tak ingin mengisi liburan ini dengan membaca buku sejarah saja, maka saya berkunjung langsung ke museum ini.

Mentengstijl

Saat tiba di depan gerbang museum, akan terlihat bangunan dengan facade Mentengstijl, sebuah gaya
arsitektur masa kolonial Belanda di kawasan tropis, yang sederhana, dengan garis persegi yang begitu
kuat.

Tanpa hiasan dekoratif di dindingnya, bangunan itu begitu klasik dengan tembok yang dicat berwarna putih gading.

Dilihat sekilas, siapa pun akan paham usia bangunan ini tak muda lagi, dan sarat akan gaya kolonial.
Namun jika diperhatikan lebih teliti, di pagar, pintu masuk, dan jendelanya dihiasi dengan aksen
tradisional indonesia tempo dulu.

Sebelum masuk, tentunya semua pengujung diharuskan membeli tiket. Lokasi loket tiket berada di samping facade yang begitu kokoh dengan tiang-tiang besar gaya romantik sebagai penyangga.

Di loket itu saya berkenalan dengan pria paruh baya bernama Untung Supardi. Beliau adalah pemandu wisata terlama di Museum Gedung Joang 45, sekaligus menjaga loket tiket.

Pak Untung menyerahkan sobekan tiket, dan juga lembar panduan singkat tentang museum ini. Kemudian dia mengarahkan saya untuk langsung masuk.

Saya disambut patung torso Ir Soekarno dan Mohammad Hatta. Sangat layak patung kedua tokoh itu berada di sini, sebab mereka berperan penting dalam Kemerdekaan Indonesia.

Mereka adalah proklamator kemeredekaan RI, sekaligus Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik
Indonesia.

Kedua patung itu ditempatkan secara berdampingan menghiasi pintu masuk. Lalu pada sudut teras itu
terdapat lemari kaca yang berisi cetakan tangan dari para tokoh pahlawan perempuan Indonesia.

Kumpulan telapak tangan dari para pahlawan perempuan Indonesia yang terpajang di teras dekat pintu utama Gedung Joang 45.
Kumpulan telapak tangan dari para pahlawan perempuan Indonesia yang terpajang di teras dekat pintu utama Gedung Joang 45. (Warta Kota/Janlika Putri)

Setelah melewati teras, saya melihat bagian dalam gedung ini terbagi menjadi beberapa ruangan.

Namun, pengunjung yang baru pertama kali ke sini, dan tanpa menggunakan pemandu tak perlu khawatir, karena terdapat petunjuk untuk rute kunjungan.

Dan ada pula beberapa penjaga di ruangan yang selalu siap ditanya .

Bagian museum

Museum ini terbagi menjadi beberapa ruang pamer yaitu ruang pendahuluan, ruang masa penjajahan Jepang, ruang Diplomasi RI, ruang NKRI, area foto, dan area audio visual.

Menurut Untung, jauh sebelum tempat itu menjadi markas pemuda Menteng, dulunya gedung itu adalah sebuah hotel.

Penjelasan soal museum dimuat di ruang pendahuluan. Di sini ada segala informasi yang berkaitan dengan pembangunan Gedung Joang 45.

Pada ruang ini diperkenalkan siapa saja tokoh-tokoh Pemuda Menteng 31, seperti Adam Malik, AM Hanafi, Sukarni, dan tokoh lainnya yang diceritakan lewat koleksi, dan gambar bernarasi.

Masuk ke ruangan tengah, pengunjung akan menemukan foto-foto dokumentasi dari peristiwa bersejarah.

Dimulai dari pertempuran semasa agresi militer Belanda, serta kisah sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Dan yang begitu menarik mata adalahg deretan poster propaganda Jepang.

Di balik ruang tengah adalah ruang diorama dari beberapa peristiwa penting dalam perjalanan negara
Republik Indonesia.

Mulai dari situasi gedung Menteng 31 di tahun 1945, peristiwa Rengasdengklok, penandatanganan teks
proklamasi, hingga perayaan satu bulan kemerdekaan Indonesia.

Diorama peristiwa IKADA.
Diorama peristiwa IKADA. (Warta Kota/Janlika Putri)

Di ruang NKRI, beragam media sejarah dipajang, seperti miniatur, patung pahlawan, benda asli peninggalan tokoh-tokoh pejuang 45, foto, dan buku.

"Disinilah markas dari pemuda Menteng 31 untuk menyusun rencana. Dan di tempat ini mereka merencanakan untuk menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, dan mendesak Proklamasi Kemerdekaan secepat mungkin," kata Pak Untung bercerita.

Dia sudah bekerja di sana sejak masih sekolah menengah atas, dan tahun depan pensiun.

Tidak jauh dari ruang NKRI, terdapat juga ruang multimedia yang menayangkan film dokumenter perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan.

Dipamerkan pula koleksi berupa lukisan, bambu runcing, peralatan palang merah, dan benda-benda bersejarah lainnya. Semua yang dipanjang itu adalah benda asli yang digunakan selama masa perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Koleksi itu merupakan sumbangan dari para tokoh pejuangan kala itu. Tak mengherankan banyak koleksi yang mulai usang dimakan usia. Namun itu semua menambah nilai eksotis dari barang-barang koleksi ini.

Sisa bom, peti senjata, baju Palang merah, peralatan makan, funiture bahkan baju para pejuang merupakan benda-benda lawas yang menjadi saksi bisu perjungan bangsa ini.

Peralatan makan yang dipakai seorang pejuang Indonesiadi masa perang kemerdekaan.
Peralatan makan yang dipakai seorang pejuang Indonesiadi masa perang kemerdekaan. (Warta Kota/Janlika Putri)

Primadona

Setelah semua ruang telah saya jelajahi, Pak Untung mengarahkan saya ke halaman belakang, yang katanya terdapat koleksi primadona dari museum ini.

Namun sebelumnya setiap pengunjung harus mengisi buku tamu yang ada di pojok pintu keluar. Pengujung diminta menulis kesan dan pesan bagi museum.

Halaman belakang museum adalah sebuah tempat yang begitu asri dan teduh. Di tempat inilah terdapat garasi yang menyimpan tiga mobil milik soekarno dan Hatta.

"Nah, itu dia koleksi populer dari museum ini. Ayo lihat ke sana," kata Pak Untung.

Garasi itu berbentuk rumah joglo dengan pintu dan dinding kaca. Ketika saya datang, pintunya terkunci
sehingga saya hanya bisa melihat tiga mobil bersejarah itu dari balik kaca.

Ketiganya pernah digunakan oleh Presiden pertama Indonesia, dan kondisi fisik luarnya saat ini terawat
dengan baik.

Mobil yang pernah digunakan oleh Mohammad Hatta memiliki pelat nomor Rep 2.
Mobil yang pernah digunakan oleh Mohammad Hatta memiliki pelat nomor Rep 2. (Warta Kota/Janlika Putri)

Selain garasi tiga mobil itu, ada beberapa gedung lain di halaman belakang itu. Salah satunya adalah
gedung bercat merah marun yang sudah pudar warnanya, yang digunakan oleh Dewan Harian Nasional 45.

Gedung tersebut, kata Untung, adalah bangunan tambahan pada tahun 1970-an.
Di museum ini juga tersedia kafe bagi pengujung yang ingin bersantai setelah berkeliling museum. Namanya
Omah Kopi 45, dan terletak di belakang gedung Dewan Harian Nasional 45.

Selain kopi, di sini disajikan makanan ringan dan aneka minuman segar selain kopi.

Dan sebagai penutup sebelum mengakhir eksplorasi ini, saya melihat sebuah bangunan lain di sisi kiri
museum. Ternyata bangunan itu kira-kira sezaman dengan bangunan utama museum, dan sekarang digunakan sebagai perpustakaan.

Di depannya terdapat deretan patung setengah badan dari para tokoh perjuangan Indonesia.

Itulah kunjungan singkat saya ke Museum Gedung Joang 45, di mana saya mendapat pengetahuan baru lagi, terutama soal sejarah negara ini.

Museum Gedung  Joang 45

Jl Menteng Raya No.31, Jakarta Pusat

Jam Buka:

Selasa – Minggu pukul 09.00 s.d 15.00

Biaya Tiket Masuk:

1. Dewasa Rp5.000,-/orang

2. Mahasiswa Rp3.000,-/orang

3. Anak-anak/Pelajar Rp2.000,-/orang

Biaya Tiket Masuk Rombongan:

1. Dewasa Rp3.750,-/orang

2. Mahasiswa Rp2.250,-/orang

3. Anak-anak/Pelajar Rp1.500,-/orang

Note : Minimal 30 orang

Cara mencapai Gedung Joang 45 menggunakan transportasi umum:

-Dekat dengan stasiun Gondangdia. Bila dari arah Bogor atau Jakarta kota bisa dengan di stasiun
Gondangdia dan berjalan kaki santai kurang lebih 10 menit.

- Dekat dua Halte Transjakarta : halte Marcu Buana & halte Canisius College

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved