Atraksi di Jakarta

Masih Bilang Perpustakaan Cuma Gudang Buku yang Membosankan? Yuk ke Perpusnas

Gedung perpustakaan ini begitu luas dan modern, dan saya tak menemukan kesan membosankan sebuah perpustakaan.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota
Perpustakaan Nasional dalam bahasa Arab, Mandarin dan Prancis. 

Kalian termasuk yang suka membaca ? Kalau begitu sama, saya juga.

Namun terkadang saya tak menemukan buku yang saya inginkan di toko buku di Jakarta.

Maka dari itu saya pun memutuskan datang ke perpustakaan. Selain pilihan bukunya lebih banyak, saya tidak perlu merogoh kocek karena saya tak perlu membeli buku yang akan di baca itu.

Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas) menjadi pilihan saya untuk memuaskan kegemaran ini.

Perpustakaan Nasional Indonesia yang menjulang tinggi dan modern.
Perpustakaan Nasional Indonesia yang menjulang tinggi dan modern. (Warta Kota)

Apalagi sekarang Perpusnas menempati gedung baru, yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2017 lalu.

Gedung yang masih ramai menjadi perbincangan ini lokasinya sangat strategis, yakni di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Tepatnya di seberang gerbang masuk halaman Monumen Nasional (Monas). Balai Kota DKI Jakarta juga hanya sekitar 100 meter di sisi timur Perpusnas.

Dari luar, Perpusnas ini sangat gedongan, dengan gedung baru yang menjulang tinggi. Itu saja sudah
membuat tempat ini menarik mata.

Maka tak mengherankan bila ada yang mengatakan Perpusnas Indonesia adalah perpustakaan dengan gedung tertinggi di Asia.

Grha Literasi

Sebelum masuk ke gedung tinggi tersebut, semua pengunjung harus melewati rumah yang arsitekturnya sangat bertolak belakang dengan bangunan Perpusnas.

Bangunan ini terlihat kuno dengan arsitektur masa kolonial Belanda, sehingga sangat kontras dengan gedung Perpusnas yang begitu modern.

Di dalam bangunan tua bernama Grha Literasi ini terdapat beberapa ruangan, yang di dalamnya ditata
seperti museum.

Sepeda pustaka, merupakan salah satu koleksi Graha Literasi yang dibuat seperti museum.
Sepeda pustaka, merupakan salah satu koleksi Graha Literasi yang dibuat seperti museum. (Warta Kota)

Ruangan-ruangan tersebut menampilkan sejarah kepustakaan Indonesia, mulai dari perjalanan masuknya literasi latin di zaman penjajahan VOC, replika asli perpustakaan sepeda keliling, hingga aksara kuno yang menjadi cikal bakal bahasa daerah di Indonesia.

Tak seperti tampak luarnya yang terkesan tempo dulu, di dalam bangunan ini terdapat teknologi modern, seperti layar interaktif yang menampilkan beberapa koleksi sejarah perpustakaan di Indonesia dengan canggih.

Dari Grha Literasi, saya kemudian sampai di halaman gedung baru Perpusnas. Banyak pengunjung di sana dari beragam usia, yang sedang melakukan beragam aktivitas.

Ada yang sedang sibuk dengan laptopnya, ada yang seperti sedang berdiskusi kelompok, dan ada pula yang sedang befoto-foto ria.

Ada beberapa bangku yang tesedia di area ini, jadi pengunjung bisa berduduk santai dengan nyaman.

Perpustakaan Nasional dalam bahasa Arab, Mandarin dan Prancis.
Perpustakaan Nasional dalam bahasa Arab, Mandarin dan Prancis. (Warta Kota)

Raksasa

Sayapun memutuskan untuk masuk, dan lagi-lagi dibuat kagum, kerena disambut oleh rak buku raksasa yang menjulang tinggi, hampir menyentuh langit-langit gedung.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved