Wastra

Manjungjung Hutabarat : Mendobrak Batas Untuk Melestarikan Tradisi

“Bertenun hanya untuk perempuan, pria itu raja.” Begitulah kalimat yang sering diterima oleh Manjungjung Hutabarat dari semua orang di kampungnya.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota
Manjungjung Hutabarat, mendobrak tradisi perajin ulos. 

“Bertenun hanya untuk perempuan, pria itu raja.” Begitulah kalimat yang sering diterima oleh Manjungjung Hutabarat dari semua orang di kampungnya.

Namun kalimat itu dia singkirkan begitu saja dengan kesuksesan yang diperolehnya dari menenun.

Manjungjung  Hutabarat (35) adalah seorang pria asal Tarutung, yang memilih menjadi seorang perajin ulos.

Manjungjung Hutabarat mempersiapkan benang untuk tenunannya.
Manjungjung Hutabarat mempersiapkan benang untuk tenunannya. (Warta Kota)

Dia tidak perduli dengan omongan orang, bahkan larangan sang ayah dahulu pun tak dia hiraukan.

Saat ditemui di acara Ulos Fest 2019, Manjungjung sedang melakukan aktivitas yang dicintainya, yaitu menenun ulos. Rasa cinta itu membuatnya berani melawan batasan yang ada.

“Memangnya kenapa pria tidak boleh menenun? Toh penghasilan yang saya dapat lebih besar dari pria lainnya di kampung saya” katanya sambil menyiapkan helaian benang untuk ditenun.

Jarinya yang lincah menyiapkan benang untuk disusun sesuai pola, matanya pun begitu jeli memperhatikan helai tiap helai dari tiap warna benang.

Begitu seriusnya dia dalam pekerjaannya, sehingga pancaran auranya bukan berasal dari orang yang baru belajar beberapa tahun.

Meskipun sedang serius,d ia tetap menanggapi siapapun yang mengajaknya berbicara. Bahkan dia memberi tahu bila menenun harus  melibatkan pulailmu matematika.

“Untuk menghasilkan ulos dengan corak yang cantik, setiap benang harus tersusun berdasarkan patokan yang sudah ada. Proses inilah yang paling penting sebelum masuk ke proses menenun. Helaian benang harus dihitung, masing-masing warna benang berbeda tiap helainya. Maka ilmu matematika diperlukan di sini” tuturnya.

Terlalu cinta

Manjungjung selalu mencintai ulos sebagai warisan budayanya, sehingga dia  tidak setuju bila ingin melestarikan budaya harus terbatasi oleh gender.

“Masak ingin melestarikan budaya terhalang karena saya pria?” katanya bertanya  

Sebelum memantapkan diri sebagai penenun ulos, Manjungjung sempat merantau, bekerja sebagai apa saja untuk mendapatkan rupiah.

Bahkan dia pernah menjadi kariyawan kantoran, yang hanya bertahan kurang lebih dua tahun.

Hal tersebut dia lakukan karena tidak dapat menyelesaikan kuliahnya di jurusan komputer disebuah  universitas negeri yang ada di Yogyakarta karena alasan ekonomi.

Kemudian Manjungjung pulang ke kampung, Desa Partalijulu, Tarutung.

Ingatan masa remaja pada ulos membuatnya terpanggil untuk pulang, dan melanjutkan aktivitas kesukaannya yang sempat tertunda.

Bakat Manjungjung membuat ulos sepertinya mengalir dari sang ibu, yang juga seorang penenun.

Pemandangan sang ibu menenun selalu dilihat  Manjungung remaja setiap hari di rumah.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved