Wisata Sejarah Jakarta

Menyelami Sensasi dan Sejarah di Museum Taman Prasasti

Sudah punya rencana liburan pada akhir pekan ini? Wisata ke tempat tempat satu ini bisa di jadikan pilihan, terutama bagi warga Jakarta.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Jalinka Putri
Patung perempuan menangis di Museum Taman Prasasti 

Karena itulah suasana angker langsung sirna, karena sudah tidak ada sama sekali sosok yang terkubur di sana. 

"Berdasarkan data yang tercatat, kuburan ini sudah dipindahkan jadi sudah tidak ada kuburan. Hanya nisan-nisan, dan konsep sebagai pemakaman yang tersisa. Hal ini untuk menjadi simbol sejarah panjang negara ini" ucap Eko Wahyudi yang sudah sembilan tahun menjadi pemandu di museum Taman Prasasti.

Baru tahun 2003 tempat ini begabung dengan manajemen Museum Sejarah Jakarta, dan sejak itu tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata DKI di Jakarta.

Mengulik ke belakang, sebenarnya pemakaman Kebon Jahe ini difungsikan untuk menggantikan  pemakaman sebelumnya, di gereja Nieuwe Hollandse Kerk kotatua yang sudah penuh.

Kini gereja tersebut juga sudah beralih fungsi menjadi Museum Wayang

Makam pengganti

 Jeremias van Rumsdijk, anak Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada waktu itu, adalah orang yang mengusulkan lahan di Kebon Jahe itu dijadikan pemakaman.

Pada tahun 1795, populasi Batavia meningkat pesat, sehingga jumlah orang yang meninggal juga bertambah.

Makam di gereja di samping balai kota Batavia sudah penuh, dan banyak jenasah tak tertampung.

"Kala itu Batavia dalam kondisi tidak sehat karena terlalu padat, sehingga banyak warga yang terjangkit penyakit dan meninggal. Pemakaman di depan gereja pun tidak sanggup menampung sehingga pemerintah kota Batavia mencari lahan di luar kota Batavia, ke arah selatan kota," kata Eko. 

Nisan dengan patung anak kecil di Museum Taman Prasasti
Nisan dengan patung anak kecil di Museum Taman Prasasti (Warta Kota)

Strategis

Lalu mengapa lahan di kebon Jahe ini yang dipilih? Hal ini tak lepas dari keberadaan Kali Krukut yang mengalir tak jauh dari lahan itu.

Orang Belanda di Batavia menggunakan Kali Krukut sebagai jalur transportasi untuk mengangkut peti jenazah ke makam, dengan menggunakan perahu.

Lahan ini menjadi strategis, karena jauh dari kota namun bisa dicapai dalam waktu cukup cepat.

Sesuai dengan namanya, Museum Taman Prasasti ini memang layak dijadikan taman tempat berekreasi. 

Di beberapa sudut tersedia bangku-bangku taman untuk duduk-duduk, menikmati keteduhan tempat itu.

Berbagai jenis pohon yang rindang juga membuat tempat itu semakin teduh.

Cara menuju Taman Prasasti

Untuk sampai ke sini sangatlah mudah, dan ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan. 

Cara paling mudah adalah menggunakan bus Transjakarta, karena tersedia beberapa rute yang bisa diambil.

Rute pertama adalah menggunakan bus Transjakarta Koridor 1 Blok M- Kota.

Calon pengunjung turun di halte Monumen Nasional, tepatnya di depan gedung Museum Nasional yang biasa disebut Museum Gajah. 

Setelah menyebrang dan tiba di depan museum, berjalanlah memasuki Jalan Museum menuju arah barat.

Jalan terus dan menyebrangi Kali Krukut sehingga tiba di Jalan Abdul Muis. Telusuri Jalan Abdul Muis menuju ke utara, sehingga menemukan Jakan Tanah Abang 1 di sebelah kiri.

Rute kedua adalah menggunakan bus Transjakarta nomor 8A  trayek Grogol 2 - Juanda.

Calon pengunjung turun di halte Petojo, dan dari sana sudah terlihat mulut Jalan Tanah Abang 1.

Alternatif lain adalah menggunakan mikrolet M08, yang memiliki trayek Stasiun Tanahabang - Stasiun Kota. Mikrolet itu melewat Jalan Abdul Muis, sehingga pengunjung bisa minta berhenti di mulut Tanah Abang 1. (M25) 

Sumber: Warta Kota

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved