Wisata Sejarah Jakarta

Menyelami Sensasi dan Sejarah di Museum Taman Prasasti

Sudah punya rencana liburan pada akhir pekan ini? Wisata ke tempat tempat satu ini bisa di jadikan pilihan, terutama bagi warga Jakarta.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Jalinka Putri
Patung perempuan menangis di Museum Taman Prasasti 

Hamparan batu nisan terpampang di lahan dengan luas sekitar 1,3 hektar ini. Pohon-pohon rindang menjadikan tempat ini begitu teduh dan nyaman, di tengah carut-marut alu lintas Jakarta.

Deretan nisan di Museum Taman Prasasti
Deretan nisan di Museum Taman Prasasti (Warta Kota/Jalinka Putri)

Seperti yang tertulis di gerbang, pemakaman ini telah ada sejak   28 September 1795, dan dikenal dengan nama Kebon Jahe Kober.

Kala itu, luas pemakaman ini  sampai 5,5 hektar, dan hampir semua orang Belanda di Batavia dimakamkan di situ saat meninggal duna. 

Hanya saja, perkembangan kota Jakarta membuat sebagian makam beralih fungsi pada tahun 1970-an, sehingga luasnya sekarang tinggal 1, 3 hektar.

Di lahan yang berubah fungsinya itu kini berdiri Gedung KONI Jakarta serta Kantor Walikota Jakarta Pusat.  

Lahan makam yang tersisa kemudian ditetapkan oleh Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, Ali sadikin, pada 9 Juli 1977 sebagai cagar budaya. 

Dipindah

Dibutuhkan waktu dua tahun untuk memindahkan jasad yang dimakamkan di sana.

Jasad yang masih ada keluarganya dipindahkan oleh keluarganya.

Sementara jasad yang tak ditemukan lagi keluarganya, dipindahkan oleh Pemda DKI Jakarta ke TPU Menteng Pulo.

Karena itulah suasana angker langsung sirna, karena sudah tidak ada sama sekali sosok yang terkubur di sana. 

"Berdasarkan data yang tercatat, kuburan ini sudah dipindahkan jadi sudah tidak ada kuburan. Hanya nisan-nisan, dan konsep sebagai pemakaman yang tersisa. Hal ini untuk menjadi simbol sejarah panjang negara ini" ucap Eko Wahyudi yang sudah sembilan tahun menjadi pemandu di museum Taman Prasasti.

Baru tahun 2003 tempat ini begabung dengan manajemen Museum Sejarah Jakarta, dan sejak itu tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata DKI di Jakarta.

Mengulik ke belakang, sebenarnya pemakaman Kebon Jahe ini difungsikan untuk menggantikan  pemakaman sebelumnya, di gereja Nieuwe Hollandse Kerk kotatua yang sudah penuh.

Kini gereja tersebut juga sudah beralih fungsi menjadi Museum Wayang

Makam pengganti

 Jeremias van Rumsdijk, anak Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada waktu itu, adalah orang yang mengusulkan lahan di Kebon Jahe itu dijadikan pemakaman.

Pada tahun 1795, populasi Batavia meningkat pesat, sehingga jumlah orang yang meninggal juga bertambah.

Makam di gereja di samping balai kota Batavia sudah penuh, dan banyak jenasah tak tertampung.

"Kala itu Batavia dalam kondisi tidak sehat karena terlalu padat, sehingga banyak warga yang terjangkit penyakit dan meninggal. Pemakaman di depan gereja pun tidak sanggup menampung sehingga pemerintah kota Batavia mencari lahan di luar kota Batavia, ke arah selatan kota," kata Eko. 

Nisan dengan patung anak kecil di Museum Taman Prasasti
Nisan dengan patung anak kecil di Museum Taman Prasasti (Warta Kota)

Halaman selanjutnya

Strategis

...

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved